Hargai Perbedaan dan Jaga Kekhusyukan

0
566

MediaKALLA.com – Bulan Ramadhan kembali datang menyambut kita. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk kita berserah diri dan memperbanyak ibadah. Sebagai ummat Islam tentu bertemu dengan Ramadhan adalah salah satu anugerah dan rahmat dari Allah SWT. Termasuk dengan perbedaan keyakinan akan awal puasa, itu termasuk rahmat bagi kita semua.  

Berdiskusi hingga berdebat soal perbedaan awal puasa bisa menjadi tambahan ilmu untuk kita semua. Penentuan awal puasa dilakukan dengan berbagai pendekatan namun tetap sama merujuk pada kehadiran hilal. Ada yang menggunakan hitungan (hisab) dan sebagaian lainnya melihat secara nyata (rukyat). 

Namun bukan itu subtansinya, yang terpenting adalah bagaimana kita saling menghargai perbedaan ini. Tidak penting kapan memulai puasa yang penting menjalankan ibadah puasa. Selain itu, dalam menjalankan ibadah-ibadah Ramadhan hendaknya dilakukan secara khusyuk dan menyejukkan. Terkhusus untuk pengeras suara masjid-masjid hendaknya jangan terlalu keras sehingga mengganggu ketenangan ummat lain. Cukup jamaah di masjid saja yang mendengarkan. Jika suara pengajian ataupun ceramah terlalu keras maka bukannya enak didengar malah menjadi kacau, apalagi jika satu masjid dengan masjid lain tidak terlalu jauh jaraknya. 

Sebenarnya penggunaan pengeras suara tidak akan mengganggu bila digunakan secara bijak dan menghormati lingkungan masyarakat yang berbeda-beda kondisinya. Namun kadangkala saking terlalu semangatnya dalam menunjukkan ibadah, penggunaannya seringkali berlebihan sehingga membuatnya jadi cenderung mengganggu dibanding fungsinya memberitahukan dan atau untuk syiar. 

Pengaturan penggunaan speaker ditekankan saat pembacaan tarhim (pembacaan shalawat menjelang adzan) yang biasa dilakukan sekitar 10 menit. Tarhim sebaiknya jangan terlalu lama. Berbeda dengan penggunaan pengeras suara pada saat azan tidak akan dipersoalkan karena merupakan kewajaran untuk memanggil kaum muslim shalat, durasinya pun hanya sekitar tiga menit. 

Di samping itu kebiasaan-kebiasaan kelompok masyarakat yang melakukan razia warung makan dan tempat hiburan hendaknya ditiadakan lagi. Kalau semua warung ditutup, ummat lain mau makan dimana. Kalau kita ingin dihargai maka kita juga harus menghargai orang lain. Menjaga ketertiban dan keamanan itu sudah menjadi tugas dan tanggungjawab polisi, kita fokus saja beribadah dan bekerja. Para penceramah atau pembicara pengajian juga hendaknya menyampaikan dakwah dengan nasihat yang baik dan membangun kekompakan ummat. Selamat menunaikan ibadah puasa. (*)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/07/MR-JK-Wife.jpg” ]Jusuf Kalla Founder Kalla Group[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 − one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.