Hadji Kalla

2
1076

MediaKALLA.Com – Seperti tembok besar Cina yang pada awalnya pembangunannya dimulai dengan sebongkah batu, dahulu  perusahaan besar yang kini kita kenal dengan nama Kalla Group dahulu  juga dirintis dari nol  oleh seorang pria sedernaha kelahiran 1920. Ia sejak kecil harus meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga karena saat berusia tiga tahun Sang Ayah telah dipanggil terlebih dahulu oleh Yang Maha Kuasa. Awalnya Kalla muda yang tinggal di kampung Nipa, Kabupaten Bone belajar berniaga  dengan bekerja dengan orang lain. Karena kerajinan dan keuletannya, pada usia 15 tahun dia sudah memiliki kios sendiri di pasar Bajoe, kira-kira enam kilometer di timur ibu kota kabupaten, Watampone. Setelah mempunyai kios, dia naik haji bersama rombongan keluarganya. Ia  sangat hemat dan rajin menabung. Dari hasil tabungan inilah yang dia gunakan untuk ke Tanah Suci pada tahun 1930-an dengan masih mengunakan kapal penumpang Belanda.

Di Tanah Suci H. Kalla mendapat inspirasi untuk mendekorasi tokonya agar kelihatan menarik. Sepulang dari  tanah suci, Hadji Kalla pun mengubah tampilan tokonya. Walhasil toko yang lain dari pada yang lain itu menjadi ramai pembeli.

Dengan eberhasilan yang diraihnya, H. Kalla merasa belum lengkap jika ia belum berumah tangga. Gadis idamannya adalah anak kepala kampung Bukaka bernama Athirah. Mereka akhirnya menikah pada tahun 1973. Kala itu Kalla berusia 17 tahun sedangkan Athirah berusia 13 tahun.

H.Kalla pun melanjutkan usaha dagangnya bersama dengan sang istri. Setelah berjualan di los pasar, sekitar awal tahun 1950, Hadji Kalla kemudian membuka toko di Jalan Wajo, Watampone. Namanya Toko Sederhana. Selain menjaga los, kesibukan Hadji Kalla bertambah karena ia juga harus menjaga toko yang berjualan barang klontong dan pakaian. Toko ini adalah toko kain terbesar di Bone. Saat itu Hadji Kalla telah dikaruniai tiga anak, yaitu Nuraini, Jusuf dan Zohra.

Setelah sukses membuka toko, H.Kalla memberanikan diri  berdagang ke Makassar. Awalnya Hadji Kalla dan Hadjah Athirah selalu menginap di Hotel Capitol, yang kini menjadi ruang pamer mobil di sebelah stasiun RRI di jalan Riburane, Makassar. Namun pada akhirnya pasangan suami-istri ini membeli satu petak rumah toko di jalan pelabuhan (kemudian jalan martadinata). Kantor ini sekaligus menjadi rumah tinggal keluarga Kalla di Makassar.

Keberhasilan Hadji Kalla tidak terlepas dari dukungan sang istri, Hadjah Athirah. Perempuan yang selalu menjadi pasangan seiring sejak mereka menikah tersebut juga piawai dalam berdagang. Ibu dari 10 anak ini menempati posisi direktur  di NV Hadji Kalla tetapi tidak ‘mengutak- atik’ hasil dari perusahaan yang dibangun bersama suami sampai akhir hayatnya.

Pendidikan agama sangat penting bagi keluarga Hadji Kalla. Jika anak-anak lalai mengaji atau shalat, hukuman sudah menunggu.  Meskipun keras namun cara ini merupakan bentuk kaderisasi yang dilakukan oleh Hadji Kalla adalah melatih anak-anaknya menjadi insane yang berahlak. Anak-anak pun  diajarkan bekerja awalnya dengan cara yang sederhana misalnya diajak mendengarkan perbincangan bisnis. Dari situ anak-anak diajarkan secara tidak langsung bagaimana menyampaikan keinginan, berpendapat, bersikap, berunding, membujuk, berkompromi, dan lain-lain.

Hadji Kalla juga merupakan orang yang hemat, ia mengajarkan anak-anaknya untuk berhemat sejak dari kecil. Namun hemat buak berarti tidak membayar pajak dan zakat. Zakat selalu dikeluarkan oleh perusahaan.Hadji Kalla mempunyai kebiasaan shalat magrib dan subuh di Mesjid Raya. Setiap subuh, ia mengetuk pintu kamar anak-anaknya untuk dibangunkan untuk bersiap shalat subuh. Cara-cara inilah yang diikuti oleh Jusuf Kalla dalam mendidik adik-adik dan anak-anaknya dikemudian hari.

Sebagai anak laki-laki pertama, Jusuf Kalla diharapkan oleh ayahnya agar bisa menjadi udztaz atau bahkan kyai. Karena itu ia dimasukkan ke sekolah pendidikan Islam Datu Musseng di Makassar. Tetapi kemudian Jusuf lebih tertarik pada pendidikan tinggi di bidang ekonomi.

Saman almarhum juga diminta ayahnya agar masuk IAIN karena akan bisa mengabdi untuk kepentingan orang banyak. Saman beralasan, sekolah di kedokteran juga untuk kepentingan orang banyak. Saman lalu menjadi dokter. Dia cepat dipanggil Tuhan dalam operasi jantung di Australia.

Achmad tidak diarahkan oleh ayahnya karena sejak kecil suda suka membongkar-bongkar sepeda dan sepeda motor. Dia mulus saja memasuki ITB.

Sedangkan Suhailly begitu tamat Sekolah Dasar akan dimasukkan pesantren di Sengkang, setelah remaja ia dibawa ke Gontor lalu menamatkan tingkat Aliah di sana. Dia diharapkan meneruskan belajar di perguruan tinggi di Al-Azhar di Mesir. Untuk itu Suhaeli harus melakukan persiapan dengan kuliah dulu di IAIN Makassar. Karena harus ada yang mengurusi perusahaan di Jakarta, Suhaeli lalu pindah ke Jakarta. Keinginan ke Mesir kandas tetapi sambil mengurusi  perusahaan dia juga belajar ke pendidikan ekonomi salah satu perguruan tinggi swasta.

Dalam suatu kesempatannya ke Gontor menjenguk Suhaeli, Hadji Kalla membawa ustadz Gontor ke Makassar. Namanya Asykur, yang kelak selain menjadi guru mengaji untuk anak-anak dan cucu-cucu juga menjadi guru bahasa  Inggris bagi Hadji Kalla.

Halim menyelesaikan pendidikannya di Buffalo University, Ameika Serikat. Selama berolajar di negeri ini, dia menerima banyak surat dari ibunya. Kadang ibunya salah menulis nama kota Buffalo menjadi Baflo, tetapi surat tersebut sampai juga. Tulisan tangannya termasuk rapi. Sayangnya, Halimm tidak mengikuti kebiasaan ibunya  yang piawai menulis surat. Tidak heran jika ia dia tidak mampu membalas surat-surat ibunya.

Salah satu pesan Hadji Kalla kepada Halim dalam bahasa Bugis cukup diingatnya. “ Kalau kau punya pensil, jangan menulis di semua buku,”maksudnya adalah,  pesan kepada semua anak laki-laki jangan menggunakan “pensil”-nya untuk “menulis” dimana-mana.

Akhirnya tidak ada anak laki-laki yang lulus diperguruan tinggi bidang agama. Keinginannya untuk memiliki anak tamatan Al-Azhar Mesir seperti yang dicita-citakannya, memang tidak terwujud namun dasar agama yang telah ditanamkan sejak kecil sudah cukup sebagai bekal anak-anaknya dalam menjalahi hidup.

Hampir semua anak dari Hadji Kalla menamatkan pendidikan di perguruan tinggi, hanya Ramlah yang tidak menyelesaikan kuliah karena ia menikah dengan Aksa Mahmud, tetapi sempat kuliah di IKIP Ujungpandang sampai tahun kedua. Setelah melahirkan anak keduanya, ia melanjutkan pendidikannya. Saudara mereka yang tertua berhenti belajar di tengah jalan. Zohra sarjana ekonomi, Farida sarjana teknik elektro, dan Fatimah sarjana Farmasi.

Bagi Hadji Kalla, pendidikan adalah hal yang wajib bagi anak-anaknya. Bila ada anaknya yang kedapatan berada di kantor pada waktu sekolah, maka akan diusirnya. Sebaliknya, jika tidak ada di kantor pada jam bekerja maka cukup ditanyakan alas an mereka tidak ada.

Hadji Kalla memiliki cara yang unik untuk memeilih karyawan yang dapat dipercaya. Mereka harus jujur dan selalu menunaikan shalat. Antara tahun 1947-1955 Hadji Kalla menjadi bendahara Mesjid Raya Watampone. Setelah pindah ke Makassar,dari tahun 1953 sampai meninggal, ia adalah bendahara masjid Raya Makassar. Ia juga membentuk pengkaderan ulama. Sarjana dari IAIN direkrut dan dididik menjadi ulama. Peserta diberikan sejumlah fasilitas.

Hadji Kalla sangat memperhatikan kesejahteran karyawannya.  Dalam keadaaan apapun, gaji karyawan harus dibayar sebelum tanggal satu. Selain itu dibangun pula 120 rumah untuk karyawan PT Hadji Kalla. Kompleks perumahan ini cukup tenang. Kompleks ini sebagian adalah hibah perusahaan kepada karyawannya.

Banyak yang tidak tahu Hadji Kalla bisa berbahasa Inggris dan berbahasa Arab. Cara mengaplikasikannya pun unik. Salah satunya dengan mendekati penumpang bule di ruang tunggu di Bandara Hasanudin. Karyawannya pun kadang diajak berbicara dengan bahasa Inggris.

Hadji Kalla juga pecandu berat olahraga. Salah satunya sepak bola pada tahun 1950-1960, yakni pada masa jaya Ramang, pemain Perserikatan Sepakbola Makassar (PSM). Selain itu dia juga senang bermain golf. Beberapa kali para karyawan meyaksikan di lapangan golf sudah ada Hadji Kalla dan KH Ali Babbu. Bagi keduanya, tidak penting pemukulan bolanya. Tidak peduli bola lari kemana bahkan pukulan tongkatnya mencabut segumpal rumput. Mereka mementingkan olah raga berjalan kakinya, tanpa pembicaraan yang panjang seperti biasa dilakukan para pegolf dari kalangan bisnis. Pemain golf dari kelompok kyai satu-satunya di Makassar ini main 3 kali seminggu, setelah shalat subuh.

Hadji Kalla adalah orang yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Ia selalu memberikan uang kepada tukang sapu jalan yang dia temui di jalan sebelum ia ke mesjid untuk shlat subuh. Selain itu, ia selalu menjamu tamu dari banyak kalangan di rumahnya. Bahkan sampai makan dan tidur di rumahnya. Setiap selesai shalat jumat pasti ada makan bersama, terutama untuk pengurus mesjid dan aktivis teman anak-anaknya.

Hadji Kalla mengidap penyakit diabetes mellitus. Karena dermawan, obatnya sering dibagikan kepada orang lain sesame penderita kencing manis. Namun dia tidak pernah mendapat serangan yang berat dari penyakitnya.

Pada tanggal 15 April 1982, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Pada hari-hari menjelang meninggalnya dan hari meninggalnya, Hadji Kalla “tidak menunjukkan” wajah kepada anak-anaknya. Ketika memberikan nasiha kepada Halim, ia memalingkan wajahnya ke tempat lain. Ribuan orang mengiringkan jenazah Hadji Kalla menuju pemakaman. Mobil jenazah tidak dihidupkan mesinnya, melainkan didorong bergantian. ketika jenazah sudah sampai di pemakaman, ekor iring-iringan belum meninggalkan Mesjid Raya. Ini adalah salah satu iringan jenazah yang paling banyak jumlah orangnya. Hadjah Athirah meninggal kurang 100hari sebelum Hadji Kalla meninggal. Yaitu pada tanggal 14 Januari 1982.

Setelah kedua orang tersebut meninggal, perahu phinisi tidak kehilangan arah. Nahkoda baru yang sudah dipersiapkan sudah pandai mengendalikan perahu tidak lain adalah putra pertamanya Jusuf Kalla. Namun saat Jusuf Kalla memasuki dunia pemerintahan, perusahaan pun di nahkodai oleh adik perempuanya Fatiman Kalla hingga saat ini.  Kebersamaan dalam berlayar penting. Masing-masing anak perahu sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Untuk membangun kebersamaan tersebut diperlukan banyak orang. (*)

{ ani }

2 COMMENTS

  1. Salut dengan beliau, sosok yang sangat menginspirasi, utamanya dalam hal pembinaan anak-anaknya, semoga KallaGroup bisa terus melanjutkan idealisme beliau, Amin.

    – Taufiq, Social Company Community

  2. aslm alaikum wr. wb.

    Cerita tentang Almarhum Hadji Kalla merupakan salah satu dari sekian banyak kisah kehidupan manusia agamais dengan naluri bisnis yang luar biasa. Hanya sedikit orang yang diberikan amanah akan sanggup melaksanakannya. Ditunjang oleh kekuatan ekonomi memadai, Hadji Kalla mampu memberikan teladan kepada seluruh masyarakat ketika itu. Mulai dari bendahara masjid raya Watampone sampai kemudian menjadi bendahara di Masjid Raya Makassar… ditambah lagi dengan sejumlah sumbangan almarhum untuk kepentingan pembangunan masjid serta pembiayaan untuk tujuan siar Islam di kedua kota tersebut menunjukkan bahwa beliau layak disandingkan dengan pejuang penegakkan Islam.
    Siar Islam tidak hanya dilkakukan di lingkungan masjid… kepada karyawannya pun tetap dilanjutkannya, apalagi kepada keluarganya, anak-anak dan handai taulan.
    Hadji Kalla memang telah meninggalkan kita, tapi jiwa dan semangat beliau masih ada sampai saat ini. Semuanya hanya dapat ditemukan pada bapak H.M. Yusuf Kalla….
    Kalau dulu Hadji Kalla hanya di Bone dan Makassar, H.M. Yusuf Kalla bahkan telah men-dunia. Kalo anda berjalan dari Sabang – Merauke lalu tanya siapa itu Jusuf Kalla atau JK… anak kecil pun pasti tahu. Apalagi di Pulau Komodo, pulau yang menjadi tujuh keajaiban dunia atas kerja keras “JK”.
    Semoga Allah merahmati keluarga beliau…. dan insya Allah rahmat yang sama dikaruniakan kepada kami, keluarga, dan anak cucuku kelak….. Amin…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − two =