Golongan Pendaki Gunung

0
536

MediaKALLA.com – Saya ingin menceritakan pengalaman mendaki gunung yang pernah saya lakukan bersama rombongan Jemaah haji KBIH Salman ITB pada bulan Desember 2006. Gunungnya juga bukan di Indonesia yang tingginya ribuan meter. Ini gunung di Mekkah, namanya Jabal Nur, tinggi 2500 feets, sekitar 800 meter. Gunung yang terjal dan berbatu, tak ada pohonan seperti gunung di Indonesia. Untuk mencapai puncak tidak perlu waktu berhari-hari. Cukup 1 – 2 jam saja. Di gunung ini terdapat Gua Hira tempat Muhammad pertama kali menerima wahyu dari Allah.

Agar tidak kepanasan kami berangkat ke sana sebelum subuh. Jadi shalat subuh di masjid dekat kaki gunung. Jumlah rombongan sekitar 15 orang. Dengan semangat 45, selepas shalat subuh kami pun mulai mendaki. Ternyata pagi-pagi sudah banyak orang yang juga mulai mendaki. Ada dari India, Pakistan, dan Turki karena dapat dikenali dari seragamnya. Ada anak-anak, remaja, dewasa bahkan kakek nenek juga ada.

Mulailah kami mendaki dengan penuh semangat. Berbekal tongkat di tangan untuk menopang badan,kami terus naik menuju puncak. Tiba-tiba salah seorang anggota rombongan kami berhenti karena kelelahan. “Ril, saya sudah tidak kuat. Cukup sampai sini aja”. Beliau pun berhenti kira-kira seperempat tinggi gunung. Mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Melihat kondisi itu, saya sempat tergoda juga untuk berhenti. Tapi saya jalan terus karena malu sama nenek-nenek dari Turki yang tetap mendaki padahal usianya lebih tua dari saya. Maka saya pun bersemangat terus mendaki. Teman yang lain juga tetap semangat mendaki. Sampai akhirnya kira-kira di tengah ketinggian terlihat ada rumah-rumah saung dan banyak orang berhenti di sana untuk istirahat.

Beberapa anggota rombongan mulai kelelahan juga dan akhirnya ikut bergabung di saung peristirahatan. Bagi yang sudah kehabisan energy dan semangat, berhenti di sini juga sudah lumayan tinggi. Apalagi pemandangan dari saung ke arah bawah memang cukup indah. Terlihat pinggiran kota Mekkah dengan rumah-rumah kotak warna putih.

Saya dan beberapa anggota rombongan masih tetap mendaki. Medan menuju puncak semakin sulit. Jalan setapak berkelok. Perlu hati-hati dan waspada. Tujuan pendakian adalah mencapai Gua Hira. Menyesal rasanya kalau tidak berhasil sampai di puncak. Entah kapan lagi baru bisa ke sini. Semangat ini terus mendorong kami dan akhirnya kami pun sampai di puncak, dekat Gua Hira. Alhamdulillah, pemandangan yang sangat menakjubkan. Terlihat dari Gua Hira ini Kota Mekkah dengan Masjidil Haram pada jarak yang cukup jauh. Terbayang bagaimana dulu Muhammad merenungi kondisi ummatnya di Gua Hira ini dengan view Kota Mekkah.

Apa pelajaran dari pendakian ini? Manusia dalam mendaki gunung ada tiga kategori yaitu Quitters,Campers dan Climbers. Golongan pertama yaitu orang yang cepat menyerah. Itulah Quitters. Golongan kedua yaitu orang yang cepat merasa puas. Itulah Campers. Di tengah perjalanan dia sudah memasang tenda dan sudah merasa cukup dengan apa yang telah dicapainya, meskipun belum sampai ke puncak. Golongan ketiga yaitu orang yang terus mendaki sampai ke puncak, itulah Climbers. Dia tidak akan berhenti sebelum mencapai puncak gunung, meskipun hadangan dan tantangan yang harus dihadapinya sangat berat.

Manusia dalam menjalani hidupnya menggapai cita-cita dan targetnya juga ada 3 kategori seperti pendaki gunung. Ada yang ‘panas-panas tahi ayam’, hanya semangat di awal, tapi cepat menyerah. Tidak siap mental, tidak siap menghadapi masalah dan hambatan. Jadilah dia ‘maju – mundur – tapi tidak cantik’. Menyerah di satu target, buat target baru lagi dan gagal lagi. Demikian terus jalan hidupnya, hanya mencoba dan mencoba tanpa pernah dengan serius dan focus menjalani dan menuntaskan satu target besar kehidupan.

Ada orang yang terus bergerak menggapai impiannya. Hanya saja dia cepat puas dan berhenti di tengah perjalanan. Ini tentu lebih baik dari golongan yang pertama. Hanya saja golongan ini cepat masuk ke zona nyaman dan bangga dengan apa yang telah dicapainya. Padahal kalau dia masih ingin terus bergerak mendaki, masih ada peluang dan harapan yang lebih baik yang bisa diraihnya. Nah, golongan terbaik tentu yang tidak cepat puas dan terus berjuang menggapai impiannya. Mendaki sampai puncak tertinggi dan siap menghadapi segala hambatan dan tantangan.

Ternyata di tempat kerja, karyawan juga dapat dibagi atas tiga kategori di atas : quitters, campers dan climbers. Apa ciri-cirinya? Kategori mana yang paling banyak? Karyawan tipe quitters adalah karyawan yang galau, labil dan belum mantap dalam memilih jalur kerja dan karirnya. Sebenarnya dia ingin keluar dari tempat kerja tapi tidak ada pilihan lain juga. Atau sambil mencari tempat kerja yang lebih baik, dia pun terpaksa bertahan dan bekerja seadanya. Akibatnya prestasi pun tidak ada. Kehadirannya tidak begitu berpengaruh kepada perusahaan. Jika dia pergi pun tidak ada dampak buruk yang diakibatkannya. Jumlah karyawan di tipe ini sekitar 60%.

Karyawan tipe campers yaitu karyawan yang bangga dengan prestasi masa lalu. Bagi mereka, apa yang sudah dicapainya sudah cukup. Metode kerja yang digunakannya sudah bagus. Tak perlu lagi sibuk mencari tantangan baru. Tak perlu lagi berinovasi mencari metode baru yang lebih baik. Dia sibuk menjadi sejarahwan, bercerita prestasi masa lalunya. Dia bertahan dan membanggakan pencapaian masa lalunya, bukan apa yang diraihnya di masa sekarang. Karyawan tipe ini sekitar 30%. Karyawan tipe ini sudah masuk zona nyaman dan sulit untuk berkembang.

Karyawan tipe climbers yaitu jenis karyawan yang terus berusaha melakukan perbaikan, inovasi dankreasi untuk peningkatan produktivitas. Bagi dia tidak ada kata berhenti untuk terus belajar meningkatkan kualitas diri agar semakin produktif. Bagi dia tidak ada rasa cepat puas dengan apa yang telah dicapai, apalagi sampai membanggakan diri. Pencapaian sekarang menjadi batu loncatan untuk meraih pencapaian yang lebih besar di masa datang. Inilah karyawan pemenang, yang terus mendaki sampai puncak pencapaian karirnya. Karyawan tipe ini sekitar 10%. Karyawan tipe ini tidak pernah membiarkan dirinya masuk dalam zona nyaman. Dia terus menantang diri masuk ke zona resiko, tapi ingat, bukan zona bahaya. Zona resiko ini artinya tingkat bahayanya masih dalam batas yang dapat diatasi.

TIPE KARYAWAN

  • Quitters : 60%

              (Keluar Atau bertahan tapi tidak berprestasi)

  • Campers : 30%

              (Bertahan dan bangga dengan prestasi masa lalu)

  • Climbers : 10%

             (Suka tantangan)

Semoga kita dapat masuk dalam kategori climbers, bukan campers apalagi quitters. Jika para climbers ini mendapatkan support positif dari jajaran top manajemen melalui system kerja yang baik dan benar maka insya Allah perusahaan akan tumbuh menjadi world class company. Perusahaan yang terus tumbuh dan berkembang memberi manfaat sar-besarnya untuk seluruh stakeholdernya : pemilik, karyawan, negara dan masyarakat. [Syamril]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 + 14 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.