Golongan Orang Yang Sedikit

0
818

MediaKALLA.co.id – Di zaman pemerintahan Umar bin Khattab r.a. ada seorang sahabat nabi yang do’anya aneh. Saat sedang tawaf mengelilingi ka’bah biasanya orang banyak permohonannya kepada Allah. Anehnya sahabat Nabi ini hanya satu do’anya. Beliau hanya berdo’a “Allaahummaj’alnii minal qaliil” yang artinya “Ya Allah masukkanlah aku dalam golongan orang-orang yang sedikit”. Do’a ini aneh karena ‘tidak jelas’ permohonannya. Ada seseorang yang mendengar do’a tersebut jadi penasaran dan terus mengikutinya sampai selesai tawaf.

Setelah selesai thawaf, orang itu pun mendekat dan bertanya mengapa do’anya hanya satu dan juga ‘tidak jelas’. Ditanya demikian, sahabat ini pun menjawab ”saya pernah mendengar Nabi menjelaskan sebuah ayat dalam Al Qur’an yang artinya sangat sedikit dari hamba-Ku yang pandai bersyukur atau berterima kasih. Saya ingin Allah memasukkan saya dalam golongan yang sedikit tersebut, yaitu orang-orang yang pandai bersyukur”. Jelaslah sekarang, ternyata do’a itu bukanlah do’a yang aneh. Do’a itu bukanlah do’a yang ‘tidak jelas’. Justru aneh kalau seseorang tidak ingin menjadi hamba Allah yang bersyukur.

Apa saja nikmat dari Allah yang sering kita lupakan? Pertama nikmat kehidupan. Kita menganggap kehidupan itu biasa saja. Baru terasa luar biasa jika ada salah satu anggota keluarga atau tetangga kita yang meninggal dunia. Keluarlah ungkapan nasehat dari pak ustadz  “ingat, hidup pasti akan berakhir, maka mari syukuri dengan beramal kebajikan”. Kemudian saat lahir ke dunia Allah memberikan rasa kasih sayang kepada orang-orang sekeliling kita. Maka kita pun dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembang karena kasih sayang mereka khususnya ibu dan bapak.

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Q.S. Al Mukminuun : 78)

Selanjutnya nikmat kesehatan. Cobalah datang ke rumah sakit dan lihatlah betapa beragamnya penyakit yang mereka derita. Bandingkan dengan diri sendiri, kita akan sangat bersyukur karena Allah masih memberi nikmat kesehatan. Memang nikmat sehat ini hanya bisa dilihat oleh orang yang sakit. Seorang ulama mengatakan “kesehatan itu seperti mahkota di atas kepala raja yang hanya dilihat oleh orang lain. Raja tidak bisa melihatnya (kecuali bercermin)”.

Nikmat berikutnya yaitu nikmat keamanan. Tahun lalu saat kami rombongan dari Kalla Automotive berkunjung ke Palestina, sangat terasa mahalnya rasa aman. Karena masuk daerah konflik, baru masuk perbatasan sudah sangat menegangkan. Saat masuk kawasan kota dan sekitar Masjid Al Aqsha, terlihat tentara Israel menenteng senjata. Kondisi ini tidak ada di Indonesia. Berangkat bekerja atau pulang kantor kita tidak pernah was was. Alhamdulillah, itulah nikmat keamanan.

Selanjutnya nikmat pendidikan. Kondisi yang aman dan negara masih dapat menjalankan pemerintahan dengan baik termasuk mengelola pendidikan maka kita pun dapat bersekolah sampai sarjana, minimal SMA. Bandingkan dengan masa penjajahan Belanda sekitar 90% penduduk buta huruf. Sekarang pun untuk daerah-daerah terpencil masih banyak masyarakat yang tidak bisa bersekolah sampai SMA karena sekolahnya jauh dari tempat tinggalnya.

Disebabkan pendidikan yang kita miliki maka kita pun ada kesempatan bersaing di dunia kerja sehingga memiliki pekerjaan. Tidak semua yang berpendidikan punya pekerjaan karena banyak sekali sarjana yang menganggur. Oleh karena itu mari kita syukuri, karena dengan pekerjaan itu Allah menjadikan kita mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan dengan relatif mudah. Sering kita anggap biasa saja nikmat pekerjaan ini karena sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Padahal masih banyak orang yang menganggur atau tidak memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang cukup.

Selanjutnya nikmat yang paling berharga yang tidak semua manusia peroleh yaitu nikmat keimanan kepada Allah. Nikmat hidayah yang berisi petunjuk kehidupan untuk meraih bahagia di dunia dan akhirat. Nikmat Al Qur’an yang Allah turunkan, tidak ada keraguan di dalamnya untuk menjadi petunjuk bagi orang yang bertakwa. Mari evaluasi diri, sejauh mana nikmat ini kita syukuri dengan membaca, mempelajari dan mengamalkannya. Jangan hanya di bulan Ramadhan kita rajin membacanya, tapi di 11 bulan berikutnya harus kita tadaburi, hayati dan perhatikan maknanya sehingga dapat menjadi cahaya petunjuk bagi diri kita. Allah berfirman :

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.
(Q.S. Shaad : 29)

Melalui hidayah taufik dari Al Qur’an Allah memberikan ketenangan pada hati manusia yang beriman sebagaimana firman-Nya :

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Q.S. Al Fath : 4)

Demikianlah Allah memberikan nikmat kepada manusia jumlahnya tidak terbatas. Allah berfirman :

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. … (Q.S. Ibrahim : 34)

Terhadap seluruh nikmat tersebut Allah tidak meminta bayaran. Allah hanya meminta bersyukur dan dampak syukur itu pun untuk manusia juga.  Bersyukur dengan hati dengan meyakini bahwa semua nikmat itu dari Allah SWT. Bersyukur dengan lisan melalui ucapan Alhamdulillah. Bersyukur dengan perbuatan dengan menggunakan nikmat dari Allah sebaik-baiknya sesuai dengan peruntukannya dan aturan-Nya. Bagi kita yang bekerja wujud syukur kita yaitu dengan bekerja sebaik-baiknya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kita. Capai KPI yang sudah dijanjikan. Jika itu kita lakukan maka Allah akan membalasnya dengan menambah nikmat-Nya kepada kita. Tapi hati-hati, jangan jadi orang yang kufur nikmat. Wujudnya di tempat kerja jika kita bekerja melanggar nilai-nilai perusahaan, prosedur kerja, tidak melakukan perbaikan, cuek terhadap masalah yang menimpa perusahaan, egois dan tak peduli dengan prinsip “asal saya aman”. Jika itu yang terjadi maka Allah mengancam dengan siksa Nya. Wujudnya bisa jadi perusahaan kita akan menurun kinerjanya bahkan bisa jadi bangkrut dan kita semua akan kena dampaknya.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibrahim : 7)

Semoga dengan itu semua Allah menjadikan kita golongan orang yang elit, sidikit, yaitu golongan orang yang bersyukur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.