Evaluasi Perencanaan Strategis Kalla Group

0
765

Makassar – Seluruh direksi dan holding Kalla Group berkumpul dalam Workshop Strategic Planning tahap 2 di Saoraja Ballroom, Wisma Kalla lantai 2 (25/3). Workshop ini merupakan lanjutan dari Workshop Strategic Planning tahap pertama yang diadakan 2 pekan lalu. Darmin A. Pella sebagai pembicara mengatakan bahwa training ini merupakan evaluasi dari training yang pertama untuk melihat sejauh mana hasil perencanaan strategis telah dilakukan oleh unit unit perusahaan di lingkungan Kalla Group.

Direksi dari setiap unit memaparkan upaya yang telah dilakukan dalam memajukan perusahaan dengan perencanaan strategis ini. Beberapa diantaranya mendapat feed back dari trainer, Darmin.

PT. Hadji Kalla/ Kalla Toyota

Hariyadi Kaimuddin selaku Manajer Operasional menjelaskan hal hal yang ditempuhnya dalam mengaplikasikan perencanaan strategis yakni:

  • Membagi team work nya menjadi dua bagian yakni, tim internal dan eksternal
  • Untuk hal hal yang bersifat teknis, unit nya mendelegasikan tugas tugas tersebut ke Analyst yang bertugas merapikan data dan  membuat kan chartnya
  • Unitnya perlu memikirkan strategi yang lebih detail
  • Hariyadi menginginkan agar daily planning bisa diarahkan oleh strategy planning. Selain itu, agar perencanaan strategis tidak hanya menjadi tugas Direksi semata tapi juga menjadi kewajiban semua staf.

Feedback dari trainer: Darmin mengatakan bahwa tugas perencanaan strategis memang berat, tapi memang seperti inilah yang harus dilakukan sebuah corporate agar bisa berkembang. Darmin memberikan contoh Astra, perusahaan dealer mobil sekelas Hadji Kalla. Bahwasanya Astra bagus dalam hal control/monitoring maupun speed nya. Namun, tidak se integrated yang telah dilakukan Kalla Toyota.

PT. Bumi Sarana Utama

Dari PT. Bumi Sarana Utama, Pak Bur menyampaikan bahwa timnya masih kesulitan menemukan data perusahaan pembanding. Selain itu, Pak Bur juga mengusulkan agar perencanaan strategis itu disederhanakan, jangan terlalu banyak variabelnya sehingga tidak susah untuk dikelola. Namun demikian, pihak nya sangat bersyukur bahwa dengan perencanaan strategis ini perusahaan menjadi lebih maju melalui evaluasi pada semua komponen.

Feedback  dari trainer : Untuk produk yang dihasilkan oleh Bumi Saran Utama yakni aspal, termasuk pada kategori low level of innovation. Bahwa produknya tidak bisa diberikan sentuhan inovasi karena jenisnya seperti bahan tambang lain. Selain itu juga tidak ada produt portofolio. Untuk produk jenis ini disarankan ke arah product value, yakni menambah nilai tambah dari produk dari segi pengemasan (packaging) dan memperbaiki sistem distribusi ke konsumen.

PT. Baruga Asri Nusa

Follow up perencanaan strategis disampaikan oleh Burhan selaku Direksi dari Baruga Asri Nusa yakni:

  • Sosialisasi ke seluruh department
  • Staf di unitnya sangat antusias dengan adanya perencanaan strategis ini namun demikian hal ini masih dipandang sebagai tugas direksi. Selain itu, untuk menjadikan perencanaan strategis menjadi budaya masih sangat susah

PT. Bumi Jasa Utama

Dari PT. Bumi Jasa Utama, diwakili oleh Tommy. Pimpinan PT. BJU ini menyampaikan bahwa pihaknya telah berusaha memaksimalkan pertemuan dalam membahas perencanaan strategis ini bahkan sampai malam. Dari pertemuan tersebut, pihaknya tinggal menyamakan persepsi dan data yang ada pada masing masing department.

PT. Bumi Sarana Beton

Pak Syam’un mengatakan bahwa dalam pelaksanaan perencanaan strategis ini, pihaknya belum menemukan data penyeimbang sebelumnya sehingga hasilnya masih sangat sederhana.

PT. Haka Sarana Investama

Anshary, selaku Direksi mengatakan sebagai follow up perencanaan strategis, timnya telah melakukan pertemuan setiap sore dan melakukan browsing di internet serta mengumpulkan data

Sementara Bu Vonny mengungkapkan bahwa pihaknya masih terkendala dalam pelaksanaan perencanaan strategis ini disebabkan oleh tenaga pemasaran yang lebih sering berada dilapangan sehingga sulit mengumpulkan data. Disamping itu, waktunya yang sangat terbatas berefek data yang dikumpulkan kurang akurat.

Kesalahan Kesalahan dalam Market Penetration

Darmin mengemukakan bahwa ada beberapa kesalahan utama yang umumnya ditemui oleh perusahaan perusahaan ketika berusaha melakukan penetrasi pasar (Market Penetration)

  1. Bingung dengan apa yang perusahaan dan customer inginkan. Untuk itu, perusahaan harus bisa mengembangkan produk/jasa yang sejalan dengan hasil survey yang memetakan apa yang dibutuhkan pelanggan.
  2. Gagal mengidentifikasi dan mengantisipasi keinginan konsumen di masa depan. Kalau perusahaan tidak bisa menciptakan, minimal bisa mengantisipasi kebutuhan pelanggan ke depan.
  3. Hanya fokus membuat produk yang baik tapi tidak mengesampingkan membuat produk yang tepat yang sesuai dengan keinginan konsumen. Dalam hal ini perusahaan bisa memilih apakah membuat produk/jasa lama lebih baik atau berinovasi membuat jasa/produk/layanan baru yang akan sangat diapresiasi oleh konsumen. Perusahaan akan lebih menguntungkan jika sebaiknya cari layanan baru yang nilainya kecil tapi benefitnya besar.
  4. Membangun produk dan pelayanan yang baik tapi tidak membangun model bisnis yang sesuai. Dalam hal ini harus diingat bahwa setiap layanan/produk baru akan memunculkan kebutuhan perubahan proses/model bisnis.
  5. Membingungkan konsumen dengan produk. Sebagai solusinya, perusahaan harus bisa menganalisa apa yang diinginkan konsumen dan menambah nilai produk.
  6. Kurang inisiatif kreatif dalam meningkatkan penetrasi pasar, perkembangan produk dan perkembangan pasar. Agar bisa menguasai pasar maka diperlukan ide ide baru yang out of the box. Jika perusahaan bisa menemukan ide ide, imbasnya akan membuat konsumen belanja lebih banyak, konsumen lebih beragam serta memperluas  segmen/wilayah penjualan.
  7. Membingungkan penetrasi pasar, perkembangan produk dan pasar. Perusahaan haru mampu memahami arti ketiga hal tersebut dan melihat perbedaannya.
  8. Tidak mampu mengidentifikasi perkembangan kreatif dengan diversifikasi yang terkonsentrasi. Perusahaan harus berpikir secara group minded, bukan SBU minded. Untuk itu, setiap unit harus bisa bersinergi dengan unit yang lain.

Setiap perusahaan di lingkungan Kalla Group harus pula jeli melihat key trend yang akan terjadi baik secara lokal, nasional maupun global yang bisa mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang. Misalnya, kenaikan harga BBM. Hal jal seperti ini sudah harus di kaji dan diantisipasi jauh sebelumnya dengan mempersiapkan tools yang sesuai. [MK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.