Dunia ini Tempat Transit

0
674

MEdiaKALLA.com – Perjalanan mudik selalu membawa kenangan, penuh suka dan duka. Demikian pula dengan perjalanan kami sekeluarga 10 tahun yang lalu. Berangkat dari Bandung menuju Pinrang. Waktu itu tiket pesawat masih cukup mahal sehingga dana kami tidak cukup. Maka kami pun menggunakan kapal laut PELNI. Perjalanan dimulai dari Bandung lalu berangkat ke Tanjung Priok Jakarta. Jalan tol juga belum selesai di Purwakarta maka lewat jalan biasa. Kira kira ditempuh dalam 5 jam baru tiba di pelabuhan. Selanjutnya berangkatlah kapal laut PELNI dari Tanjung Priok Jakarta menuju Makassar.

Karena perjalanan cukup jauh memakan waktu 2 hari maka ada pemberhentian di Tanjung Perak Surabaya. Di Surabaya kapal mengisi lagi perbekalan bahan bakar, makanan, minuman dan sebagainya. Para penumpang juga bisa turun berbelanja dan mencari hiburan. Dua jam kemudian barulah kapal kembali berlayar. Setelah sehari semalam sampailah di Makassar. Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi dengan menggunakan mobil menuju Pinrang yang berjarak 200 km dari Makassar. Akhirnya menempuh jalan darat sekitar 5 jam maka tibalah kami di kampung halaman.

Perjalanan mudik kami tersebut ternyata mirip dengan perjalanan hidup manusia. Ada titik awal, tempat transit sampai akhirnya di titik akhir. Kehidupan manusia berawal dari alam ruh, kemudian masuk ke alam rahim, lalu lahir ke alam dunia, selanjutnya masuk ke alam kubur dan terakhir ke alam akhirat. Ternyata tempat transitnya ini di dunia yang kita tinggali sekarang. Transit itu tidak akan lama. Demikian pula dengan kehidupan manusia di dunia juga tidak lama dibandingkan dengan perjalan panjangnya menuju akhirat. Menurut Allah, satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. Artinya 1 jam akhirat sama dengan 41,67 tahun. Jika hidup manusia di dunia ini yang rata-rata sekitar 62,5 tahun dikonversi ke waktu akhirat maka hanya setara dengan 1,5 jam. Sangat singkat, hampir sama dengan waktu transit kapal laut tadi di Surabaya.

Saat manusia masih di alam ruh kita semua telah bersaksi tentang keesaan Allah sebagaimana Al Qur’an menggambarkan :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Q.S. Al A’raf : 172)

Sehingga manusia yang lahir ke dunia semua dalam keadaan fitrah, suci. Sebagaimana kata Rasulullah Muhammad SAW, orang tuanyalah yang membuatnya menjadi keluar dari fitrah keislamannya. Lingkungannya yang menjadikannya bergeser dari fitrah tauhidnya. Manusia yang lahir ke dunia ini Allah beri potensi rasa, akal dan hati nurani. Dengan optimalisasi potensi tersebut manusia diberi kemerdekaan untuk memilih jalan hidupnya. Allah berfirman :

“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Q.S. As Syams : 8-10)

Ternyata dunia tempat kita transit sungguh sangat mempesona. Dihiasi dengan berbagai keindahan dan kesenangan. Banyak manusia yang terpedaya dan lupa bahwa mereka hanya sekadar mampir untuk menyiapkan perbekalan menuju kampung akhirat yang lebih baik. Allah mengingatkan :

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S. Ali Imran : 14)

Semua yang ada di dunia ini sementara dan akan hancur. Akhiratlah yang kekal abadi. Diri kita pun sebagai manusia akan mati. Lalu masuk kea lam kubur kemudian di hari kiamat akan dibangkitkan kembali untuk masuk ke alam akhirat. Allah berfirman :

Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (Q.S Al Mu’minun : 15-16)

Jadi tujuan akhir perjalanan manusia adalah akhirat, sehingga yang harus dicari adalah kebahagiaan negeri akhirat. Namun bukan berarti tidak mencari kebahagiaan di dunia karena kita diajarkan untuk berdo’a agar meraih bahagia di dunia dan akhirat serta dijauhkan dari siksa api neraka. Bagaimana cara meraih kebahagiaan akhirat dan juga tidak melupakan dunia, Allah mengajarkan dalam Al Qur’an :

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al Qashshash : 77)

Caranya berbuat baik kepada orang lain dan jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Jadikan diri bermanfaat untuk 3P yaitu : personal, people dan planet.  Bukankah manusia terbaik yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain? Meraih kebahagiaan dengan memberi, bukan semata menerima. Bahagia karena memberi artinya mencari kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain. Apa yang diberikan? Apa saja yang Allah anugerahkan. Bisa berupa harta benda, ilmu, kepedulian, kekuasaan yang adil dan berpihak kepada rakyat, motivasi, inspirasi dan lain sebagainya.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – 13 Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − sixteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.