Do’a Orang Aneh

0
589

MediaKALLA.com – Di zaman pemerintahan Umar bin Khattab r.a. ada seorang sahabat nabi yang do’anya aneh. Saat sedang tawaf mengelilingi ka’bah biasanya orang banyak berdo’a dan memohon kepada Allah. Anehnya sahabat Nabi ini hanya satu do’anya. Beliau hanya berdo’a “Allaahummaj’alnii minal qaliil” yang artinya “masukkanlah aku dalam golongan orang-orang yang sedikit”. Do’a ini aneh karena ‘tidak jelas’ permohonannya. Ada seseorang yang mendengar do’a tersebut jadi penasaran dan terus mengikutinya sampai selesai tawaf.

Setelah selesai thawaf, orang itu pun mendekat dan bertanya mengapa do’anya hanya satu dan juga ‘tidka jelas’. Ditanya demikian, sahabat ini pun menjawab ”saya pernah mendengar Nabi menjelaskan sebuah ayat dalam Al Qur’an yang artinya sangat sedikit dari hamba-Ku yang pandai bersyukur atau berterima kasih. Saya ingin Allah memasukkan saya dalam golongan yang sedikit tersebut, yaitu orang-orang yang pandai bersyukur”. Jelaslah sekarang, ternyata do’a itu bukanlah do’a yang aneh. Do’a itu bukanlah do’a yang ‘tidak jelas’. Justru aneh kalau seseorang tidak ingin menjadi hamba Allah yang bersyukur.

Apa saja nikmat dari Allah yang sering kita lupakan? Pertama nikmat kehidupan. Kita menganggap kehidupan itu biasa saja. Baru terasa luar biasa jika ada salah satu anggota keluarga atau tetangga kita yang meninggal dunia. Keluarlah ungkapan nasehat dari pak ustadz  “ingat, hidup pasti akan berakhir, maka mari syukuri dengan beramal kebajikan”. Tapi setelah beberapa hari berlalu kita lupa lagi dan kembali ke kebiasaan lama.  Padahal nikmat kehidupan ini sungguh nikmat yang luar biasa dari Allah. Bayangkan, sejak pertemuan sel telur dan sperma kedua orang tua, Allah sudah memilih kita dari ratusan juta sel sperma yang ada. Hanya ada satu yang membuahi sel telur. Perkembangan di dalam rahim yang demikian luar biasa dari satu sel akhirnya kita lahir ke dunia dengan tubuh yang sempurna. Allah berfirman :

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Q.S. Al Mukminuun : 78)

Kemudian saat lahir ke dunia Allah memberikan rasa kasih sayang kepada orang-orang sekeliling kita. Maka kita pun dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembang karena kasih sayang mereka khususnya ibu dan bapak. Lalu di bumi tempat kita hidup, Allah sudah melengkapinya dengan fasilitas yang sempurna. Mari perhatikan bumi tempat kita hidup. Allah mengaturnya dengan system yang sangat sempurna untuk menjadi sumber penghidupan bagi manusia. Setiap saat manusia bernafas menghirup oksigen untuk membakar makanan dalam tubuhnya. Hasilnya berupa energi dan buangannya yaitu gas karbon dioksida.
Ternyata gas karbon dioksida tersebut digunakan oleh tumbuh-tumbuhan untuk berfotosintesis. Reaksi antara gas karbon dioksida dengan air dibantu oleh sinar matahari menghasilkan gula dan buangannya yaitu gas oksigen yang dibutuhkan oleh manusia. Jadi tumbuh-tumbuhan dan manusia/hewan saling membantu dan membutuhkan.

Makhluk hidup termasuk manusia dalam hidupnya membutuhkan energi. Untuk memenuhinya Allah menciptakan matahari yang menyinari bumi kurang lebih 12 jam setiap hari. Sinar matahari digunakan oleh tumbuh-tumbuhan untuk berfotosintesis yang menghasilkan gula dan oksigen. Gula tersebut dimakan oleh manusia atau hewan pemakan tumbuh-tumbuhan. Oksigennya digunakan untuk bernafas yaitu membakar zat gula menjadi energy. Sumber energy lain juga disiapkan di alam berupa energi fosil minyak bumi dan gas. Angin yang bertiup, air terjun yang bergerak dari ketinggian manusia dapat ubah menjadi energy listrik.

Namun, sistem yang sempurna tersebut sering dirusak oleh manusia. Maka tampaklah kerusakan di darat dan di laut akibat ulah perbuatan manusia. Maka wajar saja Allah mengingatkan :

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. Ar Ruum : 41)

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Q.S. Al A’raaf : 10)

Selanjutnya, selain untuk mempertahankan kehidupan seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan, manusia juga diberi tugas menjadi pemimpin atau khalifah di muka bumi ini. Untuk itu manusia pun dilengkapi dengan fasilitas ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh hewan. Dengan ilmu pengetahuan tersebut manusia berkarya dan bekerja membangun berbagai fasilitas kehidupan. Kita pun menyaksikan kota dengan segala fasilitasnya, teknologi dengan segala kemudahan dan kecanggihannya. Allah mengingatkan agar itu semua sebagai wujud syukur atas segala nikmat dari Allah sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur’an :

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih. (Q.S. Saba’ : 13)

Demikian pula dengan kita yang memiliki pekerjaan. Mari kita syukuri, karena dengan pekerjaan itu Allah menjadikan kita mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan dengan relatif mudah. Sering kita anggap biasa saja nikmat pekerjaan ini karena sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Padahal masih banyak orang yang menganggur atau tidak memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang cukup. Bekerja juga merupakan anugerah Allah untuk mengaktualisasikan diri kita sebagai manusia yang ingin berkarya nyata. Jika manusia bekerja hanya untuk hidup, babi dan monyet pun bekerja untuk hidup. Maka bedakanlah diri kita dengan hewan melalui karya dan kinerja yang baik. Karya yang memberi manfaat untuk diri sendiri, orang lain dan alam semesta.

Selanjutnya nikmat yang paling berharga yang tidak semua manusia peroleh yaitu nikmat keimanan kepada Allah. Nikmat hidayah dengan agama Islam yang berisi petunjuk kehidupan untuk meraih bahagia di dunia dan akhirat. Nikmat Al Qur’an yang Allah turunkan, tidak ada keraguan di dalamnya untuk menjadi petunjuk bagi orang yang bertakwa. Mari evaluasi diri, sejauh mana nikmat ini kita syukuri dengan membaca, mempelajari dan mengamalkannya. Jangan hanya di bulan Ramadhan kita rajin membacanya, tapi di 11 bulan berikutnya harus kita tadaburi, hayati dan perhatikan maknanya sehingga dapat menjadi cahaya petunjuk bagi diri kita. Allah berfirman :

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.  (Q.S. Shaad : 29)

Melalui hidayah taufik dari Al Qur’an Allah memberikan ketenangan pada hati manusia yang beriman sebagaimana firman-Nya :

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Q.S. Al Fath : 4)

Demikianlah Allah memberikan nikmat kepada manusia jumlahnya tidak terbatas. Allah berfirman :

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. … (Q.S. Ibrahim : 34)

Terhadap seluruh nikmat tersebut Allah tidak meminta bayaran. Allah hanya meminta bersyukur dan dampak syukur itu pun untuk manusia juga. Allah berfirman :

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibrahim : 7)

Semoga dengan itu semua Allah menjadikan kita golongan orang yang elit, sidikit, yaitu golongan orang yang bersyukur.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three + 17 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.