Diskusi Jumatan Khalifah Club: Menakar Indikator Nilai keikhlasan Dalam Dunia Kerja

0
645

MediaKALLA.Com – Khalifah Club Kalla Group kembali menggelar Diskusi Jumatan di Warung Kuliner, Wisma Kalla lantai 4, Jumat (1/6). Sekitar 40 orang karyawan dan top management beberapa anak perusahaan di lingkungan Kalla Group hadir dalam diskusi ini termasuk Direktur Utama Kalla Group, Fatimah Kalla dan Direktur Keuangan Imelda Jusuf Kalla. Masih seperti sebelumnya, diskusi Jumatan ini membahas topik seputar nilai nilai filosofis Kalla Group yakni Indikator Keikhlasan dalam dunia kerja dengan mengundang pemateri peninjau, Prof. Kamaluddin.

Guru Besar UIN Alauddin ini secara khusus memberikan apresiasi atas terselenggaranya Diskusi Jumatan Khalifah Club, “Diskusi ini sudah bagus, ada feedbacknya dan formatnya santai.” Katanya.

Secara lengkap, Prof. Kamaluddin memaparkan indikator indikator keikhlasan dalam bekerja. Pertama, orang yang menjadikan keikhlasan sebagai landasan dalam bekerja, dia akan tulus melaksanakan ajaran agama dan tidak akan goyah oleh godaan yang akan merusak keikhlasannya, memang hanya Allah saja tujuannya. Kedua, selalu memurnikan motivasi dalam pekerjaannya. Dia akan meniatkan supaya perusahaan ini berjalan dengan baik, supaya hasil kerjanya dinikmati banyak orang. Ketiga, memiliki ‘ihsan’ yang tinggi dalam dunia kerja. Dia merasa seolah olah dilihat oleh Allah dalam bekerja. Dan Keempat, selalu menunjukkan ‘Al Ibkar’ (kesungguhan dan ketelitian) dalam dunia kerja. Dia bekerja penuh totalitas seperti keyakinannya bahwa Allah menjadikan segala sesuatu penuh kesungguhan, tidak setengah setengah.

Dalam diskusi Jumatan ini, salah satu polemik yang cukup menjadi perdebatan adalah pergeseran makna ikhlas bekerja ketika dikaitkan dengan materi (gaji/bonus). Sejumlah peserta menyanggah pernyataan bekerja ikhlas tanpa mengharapkan iming-iming bonus atau gaji besar. Seperti yang dikemukakan oleh Muluk. Menurutnya, bekerja itu seperti halnya ibadah, ada indikator dan ekspektasinya, “Tidak benar jika dikatakan bekerja dengan mengharapkan bonus atau gaji besar itu tidak ikhlas. Karena seperti halnya sholat itu ada indikatornya, sholatnya baik atau buruk dan ada harapannya yakni mendapatkan pahala, begitu pula dalam bekerja, indikator bekerja yang baik itu ada, dengan ekpektasi mendapatkan gaji yang lebih besar. “ kata Muluk. Muluk menambahkan dalam dunia bisnis kita memang sangat perlu berhitung sebab tanpa itu akan sangat sulit bagi perusahaan menilai kinerja karyawan, “KPI, ABC itu semua hanya formula. Kalau tidak ada itu bisa kita bayangkan bagaimana rumitnya menghitung gaji karyawan. Namun itu berarti tidak ikhlas.” Tandas Muluk.

Senada dengan Muluk, Syam’un Saebe mengatakan bahwa karena perkembangan zaman, Kalla group tidak bisa lagi memberlakukan sistem seperti dimasa kepemimpinan Haji Kalla dimana saat itu karyawan Kalla Group masih sedikit, “Dulu tidak ada pembicaraan gaji naik berapa persen, tidak ada tawar menawar, tapi sekarang ini tidak bisa lagi seperti itu, Sebab jaman sudah berbeda,Kalla Group makin besar dan karyawannya sudah banyak. Digencarkannya kata ikhlas saat ini supaya Kalla Group tidak terlalu materialistis dan supaya ikhlas itu sendiri menjadi value management perusahaan,” Kata Syam’un.

Kedua pendapat ini dibenarkan oleh Prof. kamaluddin. Menurutnya mendapat gaji besar bukan berarti tidak ikhlas, sepanjang gaji itu diniatkan untuk kebutuhan dan kebaikan misalnya menafkahi orang tua, bersedekah, dan ama, “Sebuah hadist Nabi mengatakan kejarlah duniamu seolah olah engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan kejarlah akhiratmu seakan akan engkau akan mati besok.” Katanya.

Selain itu, untuk dapat menegakkan keikhlasan dilingkungan kerja menurut Prof. Kamaluddin, harus dibarengi dengan keadilan. Keadilan, menurutnya tidak berarti semua karyawan diganjar dengan bonus yang sama melainkan sesuia dengan kerja kerasnya, “Tidak adil jika yang malas dan yang rajin sama sama diberikan bonus 10%.” Katanya. [mk]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − four =