Direktur Kalla Inti Karsa Presentasikan Kota Makassar di Konferensi Internasional

4
1043
Fort Rotterdam Makassar City
The Paotere Harbor Makassar City

MediaKALLA.com –  Direktur Operasional dan Pengembangan PT. Kalla Inti Karsa (Kalla Property), Fadly Rifai Kasim di daulat sebagai keynote speaker dalam Urban Renewal Conference di Singapura, tanggal 23- 24 Mei yang lalu. Konferensi internasional yang dihadiri  125 perwakilan negara negara se-kawasan Asia Australia ini membahas perkembangan perkotaan (urban renewal) di beberapa negara.

Fadly RIfai Kasim on Urban Renewal Conference at Singapore 23-24 Mei 2012

Diundang untuk mempresentasikan pembangunan kota Makassar di sebuah forum internasional, menurut Fadly, adalah sebuah hal yang pernah tidak disangka sangkanya, “bermula dari seorang kenalan dari Australia yang pernah menjadi peserta di sebuah seminar di Jakarta dimana saya menjadi pembicaranya, kemudian dia memasukkan saya dalam data base networknya. Ketika dia menyelenggarakan konferensi ini, dia mengirimkan saya dan beberapa orang lainnya sebuah email penawaran untuk menjadi pembicara. Kami diminta menulis tulisan untuk dipresentasikan di konferensi tersebut. Dari beberapa orang yang mengirimkan tulisan, rupanya tulisan saya menarik minatnya.” Kisah Fadli.

Dalam konferensi ini, Fadly memaparkan “Urban Renewal by Cultural Infulence” yang membahas bagaimana keterlibatan kultur lokal masyarakat dalam pembangunan Kota Makassar, “Bahwa pembangunan kota harus melibatkan komunitas. Mengelola kota berarti harus pula melibatkan budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat. Artinya, mengkopi paste perkembangan Singapura ke Makassar belum tentu berhasil. Jangan sampai membangun kota malah membuat orang tidak nyaman. ” kata Fadly.

Fadly menuturkan bahwa konsep utama dari  Urban renewal  selama ini hanya penggunaan lahan secara massif yang ditandai dengan penggunaan tanah pemukiman secara padat dari lahan yang sebelumnya masih lapang. Hal ini menurutnya dapat mengakibatkan relokasi bisnis, penduduk, dan bangunan untuk pembangunan atas nama pemerintah. “Proses urban renewal ini dapat mengubah tata kota dan turut mempengaruhi demografi kota. Dalam perkembangannya, urban renewal dapat berpengaruh secara positif maupun negatif pada  eksistensi budaya komunitas dalam kota itu. Namun dampak negatif yang paling terlihat adalah dapat menurunkan harmonisasi hubungan dari budaya komunitas tersebut, “ kata Fadly.

Fort Rotterdam Makassar City

Makassar, menurut Fadly adalah sebuah daerah yang cukup unik dalam kaitannya dengan konsep urban renewal. Karena urban renewal yang berkembang daerah ini adalah konsep tata kota yang peduli dengan nilai nilai lokalitas, mencirikan karakter Makassar dimana masyarakat mempertahankan tata kota asli melalui upaya upaya renovasi, penambahan ruang ruang publik yang menerapkan konsep lingkungan (green concept) dalam pembangunan kotanya. Inilah konsep urban renewal yang baik.

Sebaliknya, pembangunan kota yang tidak dimulai dengan membangun manusianya terlebih dahulu maka dapat dipastikan pembangunan kota tersebut akan mengesampingkan nilai nilai dan budaya setempat. Indikator itu, menurut Fadli terlihat pada pembangunan kota oleh orang orang bermental kapitalis yang membangun kota berdasarkan kepentingannya saja, tidak lagi melibatkan peran para pemikir dan budayawan. Selain itu, nilai nilai budaya seperti gotong royong, sopan santun, ramah tamah dan norma norma lainnya akan ikut tergusur. “Nilai lokal masyarakat Makassar, siri’ na pacce, merasa malu jika berbuat salah perlu dikembangkan ke arah yang positif untuk menunjang pembangunan, ” katanya. Pada akhirnya, urban renewal yang demikian ini hanya akan melahirkan orang orang yang konsumtif dan hanya bisa melihat hidup dari sisi komersil.

Ada hal menarik selama mempresentasikan topiknya di konferensi ini, dari topik “Urban Renewal by Cultural Influence”  yang dijabarkannya, Fadly menangkap antusias peserta untuk lebih mengetahui perkembangan kota Makassar. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta yang menghadiri sesi tanya jawab presentasinya, “Padahal waktu itu selain saya, ada sesi tanya jawab dari presenter lain yang bersamaan. Dari 125 peserta, sekitar 90 peserta ke sesi Tanya jawab saya. Uniknya lagi belum ada satupun peserta yang pernah ke Makassar. Jadi, sangat impressive sekali. “ tandas Fadli. [mk]

4 COMMENTS

  1. Koreksi, Topik seharusnya : “Urban renewal with Cultural Influence” bukan “Urban renewal by Community”…
    Thank you dan sukses terus Kalla Group 🙂
    Wassalam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen + eight =