Cerita tentang Uang Bagian 2

0
546

MEdiaKALLA.com – Ambillah uang seratus, seribu, sepuluh ribu dan seratus ribu. Perhatikan angkanya. Jangan lihat bahannya. Apa yang Anda lihat perbedaan angkanya? Ternyata bedanya pada jumlah angka nol-nya. Lalu apa yang sama dari angkanya? Ternyata semua punya angka 1 di depan angka nol.  Bayangkan, apa yang terjadi jika ketiga uang itu angka satunya dihapus atau tidak ada. Berapakah nilainya? Ternyata jika tidak ada angka satu di depannya, semua uang itu nilainya nol. Jadi yang membuat uang itu bernilai  adalah adanya angka 1 di depan angka nol. Kemudian yang membuat nilainya berbeda  karena jumlah angka nolnya yang berbeda. Semakin banyak angka nolnya semakin besar nilainya.

Apa hikmah dari cerita di atas? Amalan manusia ibarat mengumpulkan angka nol. Jika dia beramal banyak maka angka nolnya juga banyak. Demikian pula jika amalnya sedikit, maka angka nolnya juga sedikit. Angka 1 di depan angka nol itu adalah niat yang ikhlas untuk ibadah kepada Allah. Sehingga amal itu belum ada nilainya di sisi Allah jika belum ada niat ikhlas di dalamnya. Meskipun amalnya banyak tapi bukan karena Allah maka nilainya nol. Demikian pula meskipun amalnya sedikit tapi ikhlas karena  Allah maka nilainya lebih tinggi dibandingkan yang tidak ikhlas. Jadi nilai amal ditentukan oleh keikhlasan. Lebih mulia di sisi Allah orang yang beramal sedikit tapi ikhlas dibandingkan beramal banyak tapi tidak ikhlas. Tentu lebih mulia lagi kalau amalannya banyak dan juga ikhlas. Allah berfirman :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. Al Bayyinah : 5)

Dikisahkan dalam sebuah hadist, ada mujahid, ulama dan dermawan. Saat di depan pengadilan Allah sang mujahid mengatakan dirinya berhak masuk surga karena telah berjuang membela agama Allah saat hidup di dunia sampai meninggal dalam peperangan. Namun Allah tahu apa yang ada dalam hatinya. Ternyata dia berperang bukan karena Allah tapi karena ingin disebut orang yang berani dan diberi gelar pahlawan. Itu semua sudah diperolehnya di dunia, dan di akhirat dia tidak dapat apa-apa lagi. Akhirnya dia pun diputuskan masuk neraka, karena beramal bukan karena Allah.

Kemudian orang kedua sang ulama pun maju. Dia mengatakan dirinya ulama yang banyak memberi nasehat kepada manusia sehingga menjadi sadar, beriman dan bertakwa kepada Allah. Tulisannya pun banyak yang diterbitkan dalam bentuk buku dan menyebar ke seluruh penjuru negeri.   Dia pun merasa berhak masuk surga dengan segala amalannya tersebut. Namun Allah Maha Tahu apa yang menjadi tujuan dia sebenarnya. Sungguh dia menuntut ilmu karena ingin disebut ulama’, mendapatkan kehormatan di sisi manusia. Dan itu semua sudah diraihnya saat hidup di dunia sehingga di akhirat dia tidak mendapatkan lagi balasan amalannya.  Akhirnya dia pun juga diputuskan masuk neraka karena beramal bukan karena Allah.

Terakhir majulah sang dermawan, orang kaya yang selama hidupnya banyak membantu kaum fakir miskin dan juga membangun fasilitas umum bagi kepentingan masyarakat. Mendirikan sekolah, masjid,  mengelola panti asuhan,  dan sebagainya.  Dia pun merasa berhak masuk surga dengan segala amalannya tersebut. Namun Allah Maha Tahu apa yang menjadi tujuan dia sebenarnya. Sungguh tujuan dia menginfakkan hartanya agar disebut dermawan. Itu semua sudah diraihnya saat hidup di dunia sehingga di akhirat dia tidak mendapatkan lagi balasan amalannya.  Akhirnya dia pun juga diputuskan masuk neraka karena beramal bukan karena Allah.

Orang yang beramal bukan karena Allah tapi karena ego atau hawa nafsunya berarti telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Allah berfirman :

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (al Jaatsiyah : 23)

Sungguh kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan orang-orang kafir yang memang tidak mengakui Allah sebagai tuhannya. Orang-orang kafir tentu saja beramal bukan karena Allah. Al Qur’an menggambarkannya :

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (An Nuur : 39)

Demikian pentingnya ikhlas dalam beramal sehingga menjadi kunci amalan kita diterima oleh Allah. Mumpung masih di dunia, belum di depan pengadilan Allah maka segeralah kembali meluruskan niat bahwa segala aktivitas dan amalan yang dilakukan diniatkan untuk meraih ridha Allah. Jika selama ini telah melenceng, mari segera bertobat. Allah berfirman :

Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (Q.S. An Nisa : 146)

Mari maknai kembali kalimat tauhid “laa ilaha illallah” yang artinya “tiada ilah selain Allah”.  Ilah yang sering diterjemahkan ‘tuhan’ kita maknai segala sesuatu yang mendominasi hidup kita dan kita rela didominasi olehnya. Jika yang mendominasi hidup seseorang adalah harta, tahta dan hawa nafsunya maka yang menjadi tuhannya adalah harta, tahta dan hawa nafsunya. Jika Allah yang jadi ilah kita berarti Allah yang menjadi tujuan hidup kita dan kita persembahkan segala amalan kita untuk Allah semata. Ini sejalan dengan tujuan penciptaan kita yang dijelaskan Allah dalam Al Qur’an :
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adzariyat : 56)
Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (Q.S. Al An’am : 162)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group –  Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.