Cerita tentang Uang Bagian 1

0
545

MEdiaKALLA.com – Jika Anda diberikan dua jenis uang. Pertama uang 10.000 baru dan kedua uang 100.000 lama. Anda harus memilih salah satu, mana yang Anda akan pilih? Bagi orang yang sudah paham tentang angka dan nilai uang tentu saja memilih 100.000 meskipun sudah kusam. Namun bagi orang yang tidak tahu nilai uang, mungkin anak kecil yang hanya melihat penampilan maka dia akan memilih 10.000 baru.

Ternyata ada dua jenis manusia dalam kasus uang di atas. Jenis pertama yaitu yang melihat nilai tidak mementingkan penampilan. Golongan kedua yaitu yang lebih mementingkan penampilan, tidak peduli nilainya. Dalam kehidupan pun demikian. Banyak orang yang tertipu dengan penampilan. Bergaul dengan orang lain karena status sosial dan kekayaan meskipun nilai akhlaknya sangat rendah. Yang penting keren. Bagi dia materialism dan hedonism adalah segalanya. Yang penting aksesorisnya, tidak perlu isi dalamnya.

Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dalam sebuah majelis dengan para sahabatnya. Kemudian lewatlah seseorang yang pakaiannya sangat rapih, penampilannya gagah dan mewah. Rasulullah bertanya “bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Sahabatnya menjawab “ini adalah orang yang beruntung. Jika dia melamar gadis pasti diterima. Jika dia berbicara pasti didengar pendapatnya”. Kemudian lewatlah orang kedua, penampilannya sangat sederhana dan tidak gagah atau ganteng seperti yang pertama. Kembali Rasulullah bertanya “bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Sahabatnya menjawab “ini adalah orang yang kurang beruntung. Jika dia melamar gadis pasti ditolak, dan jika berbicara pasti tidak ada yang mendengarkan”. Rasulullah pun bersabda “ketahuilah, orang yang kedua lebih mulia di sisi Allah dari pada orang yang pertama. Orang pertama sungguh akhlaknya sangat mulia, ibadahnya luar biasa meskipun penampilannya sederhana. Sedangkan orang yang pertama hanya penampilannya saja yang luar biasa, namun akhlaknya tercela”.

Menjelang idul fitri kita sering terjebak pada mempercantik penampilan luar, bukan pada penampilan dalam. Menyiapkan baju baru dengan berbagai model dan aksesoriesnya, bukan pada memperindah akhlaknya. Padahal yang disebut fitri itu bukanlah pada baju barunya tapi pada akhlak yang semakin baik. Kembali fitri, suci sebagaimana fitrah manusia yang senang kepada kebaikan, keindahan dan kebenaran.

Memang manusia dalam hidupnya sering lebih sibuk mengurusi aksesories dirinya, penampilan fisiknya, bukan jiwa atau hatinya. Saksikanlah menjelang lebaran, salon kecantikan penuh, super market pun berdesakan. Bukan karena tidak punya baju baru. Tapi tidak afdhal rasanya kalau tidak beli lagi yang baru. Bandingkan dengan masjid di 10 hari terakhir, mulai sepi ditinggalkan jamaah. Padahal justru di akhir ramadhan Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda dengan lailatul qadar yang lebih mulia dari pada 1000 bulan. Padahal kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan pada baju barunya, tapi pada ketakwaannya dan tujuan kita diperintahkan berpuasa juga agar menjadi bertakwa. Allah berfirman :

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al Hujurat : 13)

Harta, tahta dan ilmu semua itu hanyalah aksesoris, atau penampilan. Jika manusia tertipu sama harta maka jadilah dia diperbudak harta. Sibuk mencari harta dengan menghalalkan segala cara, melanggar batas halal dan haram. Memperturutkan hawa nafsu demi meraih aksesoris dunia, penampilan kemewahan karena dalam pandangannya hartalah yang penting dan menentukan status sosialnya. Jika banyak harta maka dia bisa masuk dalam lingkungan pergaulan high class and jet set. Demikian pula dengan tahta yang banyak dikejar manusia apalagi menjelang Pemilu. Janji diumbar, politik uang digelar, demi membeli suara rakyat untuk memilihnya saat Pemilu. Rasanya jadi terhormat jika sudah menyandang predikat anggota dewan. Atau menduduki jabatan tertentu di pemerintahan atau swasta. Rasanya naik leher beberapa centimeter jika sudah menjadi pejabat dengan pangkat yang tinggi. Juga halnya dengan ilmu dengan predikat gelar kesarjanaan S1, S2, S3 atau Professor. Sering kita temukan orang yang bergelar kesarjanaan, marah jika namanya disebut tidak didahului dengan gelarnya.

Hati-hati dengan kondisi seperti itu. Jika terjadi demikian maka manusia mudah menjadi lupa diri. Lupa bahwa semua hanya sementara, jika Pemilik-Nya berkehendak mengambilnya melalui cara yang tak disangka-sangka, segalanya bisa lenyap seketika .Bisa jadi saat demikian manusia sudah dikuasai oleh hawa nafsunya dan telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Allah berfirman :

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (al Jaatsiyah : 23)

Apa sebenarnya nilai dari harta, tahta dan ilmu tersebut? Harta, tahta dan ilmu bukanlah tujuan tapi alat. Harus senantiasa diingat bahwa harta, tahta dan ilmu itu semuanya titipan dari Allah, yang diamanahkan untuk digunakan buat kemaslahatan dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Jadi nilainya terletak pada kebermanfaatannya dan manusia yang banyak bermanfaat itulah manusia terbaik.  Jadi alangkah indahnya jika Allah menganugerahkan harta, tahta dan ilmu yang banyak, dan semua itu digunakan bukan hanya untuk kepentingan pribadi tapi juga untuk orang lain bahkan lingkungan alam dan makhluk lain juga menikmatinya. Jadilah harta, tahta dan ilmunya membawa berkah.

Jika kondisi tersebut dapat diraih maka yang terjadi adalah ibarat cerita pembuka di atas, bukan lagi uang 100 ribu lama tapi uang 100 ribu baru. Bernilai tinggi dan juga menarik penampilannya. Manusia demikian adalah manusia yang tidak tertipu oleh dunia. Dia menguasai dunia dan menikmatinya, tapi tetap sadar bahwa itu semua untuk kehidupan akhirat yang lebih baik bagi orang yang bertakwa. Allah menggambarkannya dalam Al Qur’an :

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Q.S. Al An’am : 32)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group –  Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.