Cerdas Mengenali dan Mengelola Emosi

0
606

Dalam Salam, Rasulullah Muhammad SAW berpesan kepada kita untuk jangan marah. Sebab, marah itu berasal dari setan dan disarankan untuk berwudhu dan sholat ketika marah. Beliau juga bersabda orang yang kuat bukanlah orang yang berani, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.

Dampak marah orangtua kepada anak apalagi disertai dengan kekerasan fisik dan psikis akan sangat besar akibatnya pada anak.Terdapat 5 bentuk kekerasan pada anak, yaitu fisik, psikis atau emosional, eksploitasi anak (memeras dan memanfaatkan anak untuk kepentingan pribadi), seksual, dan penelantaran. Penelantaran ini termasuk penelantaran dalam kesehatan, seperti tidak mengajari anak sikat gigi, tidak memberikan anak imunisasi. Adapun bentuk penelantaran lain kepada anak, yaitu penelantaran fisik (pengawasan tidak memadai, penolakan anak yang dari kabur, pengusiran dan pembiaran), penelantaran pendidikan dan penelantaran emosional (tidak diberi kasih sayang, kekerasan terhadap pasangan di depan anak, dan pembolehan penggunaan alkohol dan narkoba).

Seorang anak yang menerima kekerasan atau emosi negatif dari orangtua, maka akan membuat anak melakukan hal serupa kepada orangtuanya. Ketika orangtua memukul anak sebaiknya posisi tangan jangan lewat 45 derajat, sebab lebih dari itu setan sudah ikut dalam emosi kita. Anak yang sering melihat anak lain yang mengalami pemukulan jauh lebih sulit ditangani, sebab mereka akan mencontoh perilaku pemukulan tersebut dan menjadikan anak lain sebagai sasarannya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orangtua perlu mengelola emosinya secara baik. Cara pertama adalah menanyakan masalah kepada anak mengapa mereka berperilaku seperti itu. Jika orangtua tidak dapat menahan amarahnya, tinggalkan tempat tersebut untuk menenangkan diri dan beri waktu anak untuk meredakan amarahnya juga. Kemudian kembali berbicara dengan anak secara empat mata dan kepala dingin untuk menyelesaikan masalahnya.

Perlu juga orangtua mengenali berbagai macam emosi anak, seperti marah, kecewa, bosan, frustasi, putus asa, bahagia, senang, jijik, sedih, iri, licik, geram, puas, takut, malu, menyesal, kaget, capek atau lelah, cemas, curiga dan sebagainya. Ekspresi emosi pada anak laki-laki berbeda dengan perempuan. Pada anak laki-laki pada saat selesai penyapihan sudah harus dipisah dari ibunya, namun secara jiwa masih ingin dekat dengan ibunya. Terkadang, anak laki-laki menjadikan ayahnya sebagai oposisi atau lawan.

Ekspresi emosi anak makin berkembang dari bayi hingga anak beranjak dewasa. Anak usia 3 tahun, salah satu ekspresi emosinya adalah menanyakan emosi atau perasaan yang dilihatnya pada orang lain. Adapun peran ibu dalam melihat ekspresi emosi anak adalah dua kali lebih banyak berdiskusi dan menanyakan secara lembut kepada anak. Anak usia 6 tahun lebih sering mengekspresikan kritikannya secara terbuka. Memasuki usia 8-11 tahun, anak mulai hanya memperlihatkan ekspresi wajahnya. Anak-anak yang mengalami masalah untuk mengatur emosinya akan mencari tempat curhatnya. Jika orangtua tidak berada di sisinya untuk menerima curhatnya, maka anak cenderung mencari tempat curhat lainnya. Jangan sampai anak mencari penyelesaian masalahnya kepada hal-hal negatif, seperti narkotika. (Meita)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + 9 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.