Buletin Mushola Wisma Kalla #1: “Kerja adalah Ibadah”

0
708

9 Maret 2012. Jumat sore yang dingin. Waktu menunjukkan jam 5 sore. Jam kerja usai. Namun, sejumlah direksi dan beberapa karyawan di lingkungan Kalla Group justru enggan pulang. Ada ‘taman surga’ di Jumat sore penuh berkah itu.

Bertempat di Warung Kuliner Wisma Kalla Lt. 4,kantin karyawan yang biasanya sesak pada jam makan siang itu, kini riuh oleh diskusi Jumat yang diadakan oleh Khalifah Club Kalla Group. Pak Sjaiful Kasim, selaku ketua Khalifah Club memandu acara sembari menjelaskan alasan diselenggarakannya pengajian ini. Menurutnya, diskusi ini dilakukan sebagai respon dari masukan jamaah bahwa sebaiknya ada dialog pendahuluan tentang nilai-nilai Kalla sebelum tadabur Al Qur’an bersama ustadz Bachtiar Nasir, Lc, MM dengan melibatkan HRD tiap perusahaan. Pengajian ini diagendakan  akan dilaksanakan dua kali sebulan.

Pengajian itu dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama, pengantar dari Ibu Fatimah Kalla. Sesi kedua, dialog interaktif sesama peserta  pengajian.

Topik Pengajian hari itu adalah tentang satu dari  empat The Kalla Way: KERJA ADALAH IBADAH  yang menjadi corporate culture Kalla Group. Bagaimana penerapannya dalam konteks operasional perusahaan? Bagaimana pula mendefinisikan ikhlas bekerja sebagai bagian dari kerja ibadah?

Kerja Adalah Ibadah

Bu Fatimah Kalla mengatakan bahwa prinsip “Kerja adalah Ibadah” merupakan satu kesatuan yang tidak boleh terpisah dan implementasinya harus dilakukan secara integral dalam kerja karyawan Kalla Group. “Kita tidak mengartikan bahwa kerja itu adalah dunia sedangkan ibadah adalah soal akhirat. Bagi Kalla Group, pekerjaan yang kita lakukan diperusahaan ini adalah juga ibadah. Bukan semata mencari materi. Kerja dan ibadah adalah satu hal yang tak boleh terpisah ” tegasnya.

Untuk mewujudkannya dibutuhkan 5 pilar yaitu tauhid, amanah, ikhlas, adil dan istiqamah.

Diskusi berlangsung cukup hangat dengan dibukanya sesi kedua, yakni pendapat dari peserta. Prinsip forum ini semua peserta adalah pembicara. Beberapa peserta ikut memberikan komentar tentang makna kerja sebagai Ibadah. Seperti Pak Fifi yang mempertanyakan apakah kerja Ibadah atau Kerja ikhlas? Menurutnya dikaitkan dengan kegiatan perusahaan, dalam bekerja dibutuhkan keikhlasan. Ikhlas segala-galanya, sehingga orang bekerja bukan karena gaji, bukan pula karena iming-iming tapi karena Allah semata. Keikhlasan ini akan menghasilkan keberkahan bagi pendapatan perusahaan. Pendapat senada di kemukakan oleh Pak Syam’un.“Yakinlah bahwa Allah tahu apa yang kita butuhkan. Jika kita bekerja dengan ikhlas, insya Allah rejeki akan datang lebih banyak lagi dari jalan yang tidak disangka-sangka”.  Pendapat ini makin diperkuat oleh Pak Ali. Bapak setengah baya ini melihatnya dari dua sisi yaitu employee (karyawan) dan employer (pemilik) bahwa semuanya harus ikhlas. Karyawan harus ikhlas bekerja dan sebaliknya pemilik harus memiliki kebesaran hati.

Diskusi semakin seru. Pak Subhan berpendapat tentang perlunya batasan pengertian ibadah. Sebagai nilai-nilai, ini akan diturunkan dalam peraturan. Perlu menggunakan kata-kata umum yang berlaku untuk semua agama. Pak Subhan menyoroti kata tauhid yang tidak bisa diberlakukan untuk non muslim yang menjadi karyawan di Kalla Group. Dilanjutkan oleh Pak Hariyadi yang berpendapat bahwa semua aktivitas manusia adalah ibadah. Terkait dengan gaji dan iming-iming, Pak Hariyadi menilai bahwa itu boleh saja. Allah juga menyediakan surga dan neraka untuk memotivasi, sebagai reward and punishment.

Menurut Bu Fatimah, sebagian besar karyawan menghabiskan waktunya di tempat kerja sehingga harus muncul kecintaan terhadap pekerjaan itu sendiri agar karyawan bisa produktif. “Bayangkan kita berada ditempat kerja mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Tempat kerja harus efektif menimbulkan kecintaan kita terhadap pekerjaan kita. Kecintaan terhadap pekerjaan hanya akan tumbuh jika hal itu dilakukan dengan keikhlasan. Dan ikhlas sendiri adalah akumulasi akhir dari sebuah kerja ibadah.” Jelasnya.

Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (Q.S. Al An’am : 162)

Dengan melandaskan pekerjaan pada niat ibadah, kata Bu Fatimah, hal itu akan memberikan efek bagi perusahaan, “Founder perusahaan ini, Haji Kalla dan Hj. Athirah mendirikan perusahaan ini bukan hanya untuk mendapatkan profit semata. Lebih dari itu, mereka ingin memberikan manfaat bagi masyarakat. Dan niat suci itulah yang menghantarkan perusahaan ini menjadi besar.” ujarnya.

Terkait dengan hidup, berdasarkan pada Al Qur’an Surat Al ‘Ashr, manusia hidup untuk ibadah dan dakwah. Manusia yang beruntung yaitu yang beriman, beramal shaleh dan juga saling mengingatkan atau dakwah. Segala aktivitas berupa training, coaching, teaching  adalah bagian dari dakwah juga.

Pak Rahman Lambaduke juga ikut berkomentar. Manusia diciptakan tujuannya untuk beribadah kepada Allah dengan mengutip firman Allah :

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

(Adz Dzarriyat : 56)

Seluruh aktivitas hidup kita bernilai ibadah jika dikerjakan sesuai aturan. Islam mengatur sampai hal yang kecil seperti masuk WC, makan dan sebagainya. Semua ada aturannya. Hal ini sejalan dengan komentar Pak Rahman Peani dengan mengutip firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (Q.S. An Nisa : 59)

Bagaimana implementasi Kerja Ibadah ini dalam aktivitas keseharian kita? Pak Muluk berpendapat bahwa kita harus memulai dari hal yang kecil. “Rasanya masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam aktivitas keseharian kita misalnya tentang tepat waktu. Kita perlu merasa bersalah jika terlambat datang pada sebuah rapat.” Tandas Pak Muluk.

Tak terasa waktu terus bergerak dan waktu magrib pun semakin dekat. Diskusi pun ditutup oleh Pak Sjaiful dengan mengemukakan 3 kriteria kerja ibadah yaitu diawali dengan niat yang baik, dikerjakan dengan cara yang baik dan digunakan untuk hal yang baik. Beliau pun mengutip dua ayat dari Al Qur’an yaitu :

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”. (Q.S. An Naml : 19)

“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”  (Q.S. An Nahl : 97)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.