Bukan Sembarang Duit

0
588

MediaKALLA.com – Sukses dan bahagianya seseorang sering diukur dari jumlah duit yang dimilikinya. Logikanya sederhana, jika uangnya banyak maka segala keinginannya bisa terpenuhi. Mau beli barang apapun bisa. Apalagi menjelang lebaran banyak tawaran pakaian baru dengan model menawan yang menarik hati. Mau pergi ke manapun juga bisa. Berlibur ke luar negeri atau umrah tiap bulan juga bisa karena uangnya tersedia. Mau jadi pejabat seperti anggota Dewan, Gubernur, Bupati/Walikota juga bisa karena semua itu butuh duit yang banyak. Biaya kampanye, operasional tim sukes dan lain sebagainya semua butuh duit.

Namun ada duit lain yang berbeda dengan cerita di atas. Duit yang dimaksudkan bukan untuk memenuhi kebahagiaan semu berupa keinginan yang tanpa batas. Namun duit ini untuk menggapai kebahagiaan hidup hakiki dunia dan akhirat. Sungguh bukan sembarang duit. Apakah duit istimewa tersebut?  Duit yang dimaksudkan ini hanya singkatan dari empat kata yaitu : Do’a, Usaha, Ikhlas dan Tawakkal.

Mengapa DO’A diletakkan di urutan pertama? Do’a adalah harapan, keinginan atau cita-cita. Sukses selalu berawal dari cita-cita atau impian yang menjadi harapan pencapaian di masa yang akan datang. Jadi do’a itu visi yang bersifat spiritual. Allah memerintahkan orang-orang beriman agar memiliki visi memperhatikan hari esok yang berbasis ketakwaaan. Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Hasyr : 18)

Ibarat merencanakan sebuah proyek, do’a bisa dikatakan sebagai proposal perencanaan. Dalam ilmu manajemen merupakan fase planning. Prinsipnya gagal merencanakan = merencanakan kegagalan. Jadi untuk meraih kesuksesan buatlah proposal sukses Anda sebaik mungkin sehingga yang berlaku adalah sukses merencanakan = merencanakan kesuksesan. Perencanaan yang baik memiliki criteria SMART yaitu Specific, Measureable, Actual, Realistic, Time Limit. Maksudnya adalah do’a atau cita-cita hendaknya jelas, terukur, sesuai kebutuhan dan kenyataan serta berbatas waktu. Artinya bisa terus berkembang sesuai kondisi zaman.

Apakah do’a atau cita-cita saja cukup? Ternyata belum. Seperti halnya dalam ilmu manajemen, apa yang sudah dituliskan dalam perencanaan harus dikerjakan. Prinsipnya adalah write what you will do and do what you write, artinya tuliskan apa yang akan engkau lakukan dan lakukan apa engkau tuliskan. Sehingga dari kata DUIT, setelah Do’a harus berlanjut ke Usaha atau kerja. Ada beberapa jenis kerja di antaranya adalah kerja keras dan kerja cerdas. Jika usaha lebih banyak mengandalkan keterampilan otot dan waktu kerja maka itu makna dari kerja keras. Untuk menjadi ahli berlaku rumus 10.000 jam. Maksudnya jika Anda mau jadi ahli dalam bidang apapun maka tekunilah bidang tersebut dengan bekerja keras dan sungguh-sungguh minimal 10.000 jam dengan pengalaman yang terus berkembang. Tentu untuk mencapai hal ini dibutuhkan konsistensi, persistensi dan kesabaran. Agar keberhasilannya terus maju dan berkembang maka perlu selalu inovasi dan perbaikan yang disebut dengan kerja cerdas yang mengandalkan otak atau kecerdasan. Untuk itu perlu senantiasa belajar dan jangan pernah merasa pintar.

Kesungguhan menjadi syarat kesuksesan maksudnya siapa yang sungguh-sungguh maka dia akan berhasil (man jadda wa jada). Bersungguh-sungguh dalam berusaha mengerjakan sesuatu disebut dengan kata jihad dalam Al Qur’an. Jika bersungguh-sungguh Allah berjanji akan memberikan petunjuk terhadap permasalahan yang dihadapi. Allah berfirman :
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al Ankabut : 69)

Selanjutnya setelah Do’a dan Usaha harus ditambah dengan Ikhlas. Mengapa diperlukan keikhlasan? Perjuangan meraih cita-cita pasti tidak mudah, banyak halangan dan rintangan. Bisa jadi sebelum memperoleh pujian dan penghargaan akan didahului dengan cacian dan makian. Bukankah Rasulullah berdakwah waktu masih di Mekkah menghadapi hal demikian? Apa yang membuatnya bertahan? Satu kata yaitu ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah disertai keyakinan bahwa bersama kesulitan, akan ada kemudahan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Q.S. Alam Nasyrah : 5-8)

Kunci memperoleh kemudahan selain kerja keras dan kerja cerdas, yaitu keikhlasan dengan hanya berharap kepada Allah semata. Mengapa? Karena sukses yang ingin diraih bukan sukses biasa tapi sukses yang berbasis ketakwaan. Sukses yang dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah. Hal itu hanya bisa diraih jika ada keikhlasan. Pada saat proses mencapai sukses di fase perjuangan, di sana sudah banyak ujian dan pelajaran untuk semakin dekat kepada Allah. Untuk itu dibutuhkan kunci keempat setelah Do’a, Usaha, dan Ikhlas yaitu Tawakkal.

Mencapai kesuksesan tidak bisa sendirian harus ada kerja sama atau kolaborasi. Allah mecintai orang-orang yang saling berkolaborasi dalam berjuang di jalan-Nya sebagaimana firman-Nya :

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. Ash Shaff : 4)

Selain kolaborasi dengan manusia, kita juga perlu kolaborasi dengan Allah. Itulah tawakkal yaitu berserah diri, menyerahkan sepenuhnya kepada Allah setelah kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Pada akhirnya kesuksesan itu ditentukan oleh Allah, manusia tugasnya berikhtiar. Dampaknya adalah jika meraih sukses, kita jadi sombong dan membanggakan diri dan jika gagal kita tidak jadi putus asa. Allah berfirman :

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.  (Q.S. Ath Thalaq : 3)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − 9 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.