Bukan Sembarang Do’a

1
571

MediaKALLA.com – Do’a itu permohonan kepada Allah. Manusia memohon sesuatu sesuai dengan harapan dan impian hidupnya. Jika impian itu baru terwujud setelah waktu yang cukup lama maka sering disebut cita-cita.  Kesuksesan selalu berawal dari cita-cita. Sejak masa anak-anak orang dewasa sering bertanya “kalau besar nanti mau jadi apa?” Jawaban kita pun beragam, ada yang mau jadi dokter, tentara, polisi, pengusaha, guru,dan sebagainya. Meskipun tidak semua dari kita mencapai cita-cita tersebut. Tapi cita-cita itu memberi arah dan motivasi kepada kita untuk belajar di bangku sekolah dan kuliah untuk menggapai cita-cita. Setelah melalui perjalanan panjang 15-20 tahun barulah cita-cita itu terwujud.

Manusia berdo’a kepada Allah ada dua tipe. Pertama, manusia yang hanya memohon dunia dan lupa akhirat. Allah mengingatkan dalam Al Qur’an :

… Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (Q.S. Al Baqarah : 200)

Permohonan dunia berupa kekayaan dengan jalan bisnis yang terus maju bagi para pengusaha atau gaji yang selalu naik bagi karyawan. Jika bentuknya jabatan manusia berharap mendapat promosi di tempat kerja, menduduki posisi strategis di instansi pemerintahan atau swasta dengan harapan pengaruh bertambah dan tentu dampaknya harta juga bertambah apalagi posisinya di tempat yang ‘basah’. Jika bentuknya ilmu khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa berharap agar sekolahnya nilainya bagus, masuk ke Perguruan Tinggi terbaik sehingga saat lulus jadi sarjana mudah mencari kerja dengan gaji yang tinggi.

Apa permasalahan dengan permohonan di atas? Sepintas lalu baik-baik saja. Namun jika ditelisik lebih dalam akan tampak bahwa orientasi harta, tahta dan ilmu yang dimintanya hanya untuk dunia atau diri pribadi. Apakah boleh memohon dunia? Tentu saja boleh, tapi Allah mengingatkan agar disempurnakan sekaligus juga untuk akhirat. Maka ada tipe kedua yaitu manusia yang berdo’a untuk dunia dan akhirat. Allah berfirman :

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Al Baqarah : 201)

Kebaikan di dunia diorientasikan untuk kebaikan di akhirat. Dengan harta yang banyak semoga dapat membantu banyak orang. Punya perusahaan yang besar semoga bisa menjadi makelar rezeki dari Allah kepada ribuan keluarga. Dengan tahta atau jabatan yang tinggi semoga dapat menjadi jalan untuk membela rakyat dengan kebijakan yang adil sehingga rakyat jadi tambah sejahtera. Dengan ilmu yang tinggi semoga dapat memberi pencerahan, solusi atau berkarya untuk kemaslahatan rakyat. Semua itu sebagai wujud syukurnya atas nikmat dari Allah yang tak terhingga. Sebagaimana do’a Nabi Sulaiman AS yang memiliki harta berlimpah, kekuasaan tiada tara, dan ilmu yang luar biasa berdo’a kepada Allah :

… Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”. (Q.S. An Naml : 19)

Nabi Sulaiman AS berharap agar tetap syukur nikmat, bukan kufur nikmat atau lupa diri dengan segala kelebihan harta, tahta dan ilmunya. Wujud syukurnya dengan memberi manfaat kepada rakyatnya dengan mengerjakan amal saleh yang Allah ridhai. Semoga dengan itu semua yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan, Allah memberi rahmat-Nya sehingga termasuk golongan orang yang shaleh.

Demikian pula dengan do’a Nabi Ibrahim AS yang Allah juga anugerahkan nikmat yang sangat banyak. Nabi Ibrahim berdo’a :

(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh keni`matan, (Q.S. Asy- Syu’araa : 83 – 85)

Hikmah adalah ilmu yang mencerahkan hati, meningkatkan iman dan takwa sehingga memberi motivasi dan inspirasi untuk berbuat baik atau beramal shaleh sehingga tergolong orang-orang yang shaleh. Karya atau kerja shalehnya ternyata terus menjadi inspirasi dan tauladan bagi generasi berikutnya. Menjadi buah tutur yang baik sehingga memotivasi orang lain untuk juga berbuat baik. Semoga dengan itu semua Allah memberikan balasan surga kelak di akhirat.

Itulah teladan do’a dari Nabi Sulaiman dan Ibrahim AS yang diceritakan Allah di dalam Al Qur’an. Mari kita amalkan dengan sebak-baiknya sehingga hidup kita dapat bahagia dunia dan akhirat. Tentu kita ingin agar do’a kita diijabah oleh Allah. Untuk itu perlu kita penuhi syarat-syaratnya yaitu memenuhi segala perintah Allah, beriman kepada-Nya dan selalu berada dalam kebenaran.  Allah berfirman :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S. Al Baqarah : 186)

Mari senantiasa berdo’a kepada Allah karena kita manusia adalah makhluk yang lemah. Perlu pertolongan dari Allah yang Serba Maha. Juga dengan berdo’a semoga kita terhindar dari kesombongan, takabur dan lupa diri karena mengira segala yang diraihnya semata-mata karena kemampuannya sendiri seperti Karun yang Allah kisahkan dalam Al Qur’an :

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Q.S. Al Qashshash : 78)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – Ramadhan 1434 H[/author]

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.