Badik, Laut dan Kalla Group

0
591

MediaKALLA.Com – Membayangkan ratusan tahun lalu begaimana para pelaut Bugis Makassar diatas sebuah Pinisi menaklukan kerasnya lautan. Berkawan badik para pelaut Bugis Makassar meninggalkan negeri leluhur yang teramat dicintainya. Menjadikan laut sebagai sahabat karib. Badik dan laut merupakan jiwa dan raga orang Bugis Makassar dan juga menggambarkan karakter pemberani dan cepat bertidak.Badik merupakan rahasia kekuatan dan inspirasi orang Bugis Makassar.

Ketika perjanjian Bongaya disahkan, orang Bugis Makassar menjadi tersekat-sekat dalam beberapa kelompok, yang kontra memilih menjadi perantau dan laut menjadi tempat pelarian yang paling indah. Di Bumi yang baru perjuangan terus dikibarkan, Karaeng Galesong bersumpah hidup dan mati membantu perjuangan Tranujoyo di Madura, Syechk Yusuf bersimpah darah di bumi Banten. Jadi lah laut dan badik menjadi saksi kegigihan semangat orang Bugis Makassar.

Di atas kilau laut dan genggam sebilah badik menuntun langkah Sawerigading membantu perjuangan raja Kedah di Melayu ratusan tahun silam. Betapa laut dan badik menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan hidup orang Bugis Makassar. Di laut yang ganas badik hanya menjadi penghias kejantanan, tapi selepas laut badik menjadi teman karib orang Bugis Makassar. Laut pula yang membawa berita tentang berharganya sebuah taripang di benua Australia, maka dengan menumpang kapal kecil Padewekang saudagar Bugis Makassar mencicipi bibir pantai utara Australia, mereka mendahului ratusan tahun sebelum James Cook dan Abel Tasman singgah di Australia.

Laut pula yang menjadi saksi ketika Opu Daeng Rilakka bersama kelima putranya sampai di semenanjung Melayu, berjuang dengan sebilah badik, kemudian menjadikan kelima pangeran Luwu ini menjadi legenda di tanah Melayu. Di pelabuhan Paotere sisa-sisa kejayaan saudagar Bugis Makassar masih kelihatan kilaunya. Pelabuhan kecil ini masih setia melayani perdagangan antar pulau, walau kilaunya tidak seterang jaman keemasan metropolitan Makassar di abad 17 silam. Ketika duta-duta dagang Eropa memenuhi kota Makassar.

Badik dan laut menjadi inspirasi seorang penyair Madura keturunan Bugis bernama D. Zawawi Imron dalam kumpulan puisinya “Berlayar di Pamor Badik”. Kekaguman sang penyair di gambarkan dalam salah satu puisi indahnya Sampaikan salamku, wahai kecipak laut! Pada bumi Bugisku yang hangat. Perahuku teramat jauh kini berlayar. Kutembangkan siul di tengah jerit lautan” dan keindahan badik di lantunkan dalam bait indah berikut  Wajahmu kulukis dengan badik. Hutan, laut dan langit. Semakin nyalam Menyambut hatimu di kuncup bunga”

Model bangunan Wisma Kalla milik saudagar Bugis tiada lain menggambarkan sebuah perahu yang berjalan diatas laut (ombak),bangunan atas berbentuk trapesium, menyerupai tubuh perahu; bagian bawahnya, desain gelombang yang berarti ombak. Dan seperti sebuah phinisi yang mampu menembus ganasnya ombak persaingan, maka sebagai saudagar tangguh, Kalla Group harus siap memenangkan setiap persaingan. [mk]

Salam,

Indra Saraswat – PT. Bumi Jasa Utama (Kalla Rent)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.