Asah ‘Gergaji’ Diri

0
728

Bayangkan ada dua orang bekerja memotong kayu dengan gergaji. Si A setiap hari bekerja 8 jam non stop memotong kayu. Berbeda dengan si B, dia hanya memotong kayu 7,5 jam dan 0,5 jam nya dia gunakan untuk mengasah gergajinya. Siapa di antara kedua pekerja tersebut yang paling banyak memotong kayu?

Sepintas jawaban kita si A karena dia waktunya lebih lama 0,5 jam setiap harinya. Namun ingat karena tidak pernah mengasah gergaji maka bisa jadi di hari ketiga gergajinya sudah mulai tumpul dan tidak bisa memotong kayu dengan cepat. Sampai akhirnya di hari kesepuluh bisa jadi gergajinya sudah tidak bisa digunakan sama sekali. Berbeda dengan si B yang tiap hari mengasah gergajinya maka setiap hari pula dia bekerja dengan gergaji yang tajam. Jangankan di hari ketiga atau hari kesepuluh, setelah setahun pun gergajinya masih bisa digunakan dengan baik. Mungkin jumlah kayu yang dipotong si B pada minggu pertama lebih sedikit dibandingkan dengan si A. Namun pada pekan kedua dan seterusnya si B tetap stabil produktivitasnya. Pada saat yang sama produktivitas si A semakin menurun. Akhirnya dalam jangka waktu satu bulan si B pun akan menang dari si A.

Demikian pula dengan kita sebagai manusia, jika terus bekerja tanpa pernah Jika gergaji perlu diasah, demikian pula dengan diri kita sebagai manusia yang memiliki unsur  fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual. Bagaimana mengasahnya? Tentu berbeda dengan mengasah gergaji. Mari kita lihat satu demi satu.

[highlight]Mengasah Fisik[/highlight]

Tubuh kita sebagai ‘kendaraan’ dalam beraktivitas harus selalu dalam keadaan sehat dan fit. Agar metabolism tubuh terjaga maka dibutuhkan nutrisi yang seimbang, olahraga yang teratur serta istirahat yang cukup. Kendala orang yang sibuk yaitu olahraga. Idealnya olahraga 30 menit setiap hari jika ingin tetap bugar. Namun jangankan tiap hari, seminggu sekali aja sering sulit rasanya. Tapi jika ingin sehat memang harus rajin olahraga. Dan kita tidak bisa menyewa orang lain untuk berolahraga buat kita.
Salah satu bagian tubuh yang perlu istirahat yaitu otak atau pikiran. Pikiran manusia juga ada jenuhnya. Bayangkan jika bekerja menggunakan pikiran dari pagi sampai sore terbayang lelahnya pikiran kita bekerja. Dia membutuhkan istirahat dan jeda di sela-sela kerja. Waktu istirahat siang hari untuk makan siang merupakan bagian dari jeda itu.

[highlight]Mengasah Intelektual[/highlight]

Mengasah pikiran dengan memberinya ‘nutrisi’ yaitu ide-ide atau pemikiran melalui membaca buku, artikel ilmiah, diskusi, seminar, pelatihan dan sebagainya. Usahakan rutin setiap hari membaca buku atau artikel terkait pekerjaan. Di era internet sekarang, sangat mudah mencari artikel atau tulisan ‘sedikit serius’ terkait pekerjaan. Biasanya yang cukup sulit yaitu membaca buku. Dalam sebulan apakah Anda dapat membaca satu buah buku sampai tuntas? Ternyata tidak mudah karena kultur masyarakat kita bukan masyarakat membaca (reading society) tapi masyarakat menonton (watching society). Usahakan minimal satu buku per bulan agar dapat belajar sesuatu cukup mendalam, bukan sekadar kulit atau permukaannya saja.

Cara lain mengasah intelektual yaitu menulis. Biasanya orang yang senang membaca, berdiskusi atau kegiatan intelektual lainnya maka otaknya akan terangsang untuk berpikir. Akan muncul ide-ide, renungan atau produk pikiran lainnya. Ikatlah ia dengan menuliskannya. Jika Anda sulit menuliskan dalam bentuk artikel, bisa berupa power point atau dalam buku saku ide. Selanjutnya sebarkan atau sampaikan ke orang lain. Jika Anda mendiskusikan ide Anda maka ia akan berkembang menjadi lebih matang.

[highlight]Mengasah Sosial / Emosional[/highlight]

Inti dari sosial / emosional yaitu memahami perasaan diri dan orang lain. Memahami perasaan orang lain salah satunya yaitu kemampuan berempati yaitu merasakan perasaan orang lain seolah-olah apa yang dialaminya juga kita alami. Kunci untuk berempati yaitu menyimak (listening) bukan hanya mendengarkan (hearing) jika ada orang lain yang menceritakan kondisinya. Bisa juga dengan melakukan aktivitas sosial memberikan bantuan kepada orang yang kurang beruntung. Dampaknya kepada diri kita yaitu dapat menjadi cermin untuk bersyukur bahwa ternyata masih banyak orang yang hidupnya di bawah kita. Dengan menolong mereka maka akan terjalin rasa kasih sayang yang akan melahirkan kebahagiaan. Cara lain yaitu dengan bersilaturahmi kepada keluarga atau teman dekat yang mungkin sudah lama tidak bertemu. Atau berkumpul dengan tetangga pada acara arisan, pengajian dan kegiatan social lainnya.

[highlight]Mengasah Spiritual[/highlight]

Mencari makna pekerjaan, merenungi perjalanan kehidupan dan selalu mencoba  mengevaluasi diri apakah segala yang dilakukan in-line atau sejalan dengan visi hidup atau tujuan penciptaan merupakan bagian dari mengasah spiritualitas manusia. Jika terdapat penyimpangan maka segera lakukan koreksi agar tidak menjadi penyakit spiritual. Bagi umat Islam, waktu shalat dhuhur, ashar, magrib, isya dan subuh ternyata juga merupakan bagian dari mekanisme pengasahan spiritual. Shalat itu selain menyegarkan jasmani juga spiritual asalkan saat shalat betul betul khusyu dengan tuma’ninah (tenang) dan tadabur (merenungi) bacaan shalat. Shalat diperintahkan untuk ingat kepada Allah sebagai sumber energy spiritual manusia. Maka wajar saja jika dia merupakan bagian yang paling efektif untuk mengasah spiritual.

Semoga dengan segala aktivitas ‘mengasah’ diri tersebut kita sebagai manusia senantiasa dalam keadaan fit dan segar lahir dan batin. Dampaknya yaitu adanya rasa bahagia yang akan melahirkan kesuksesan dalam hidup. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × four =