Antara Qarun dan Nabi Sulaiman A.S

0
716

MediaKALLA.com – Di dalam Al Qur’an dikisahkan tentang dua manusia yang mendapat anugerah harta yang luar biasa yaitu Qarun dan Nabi Sulaiman a.s.  Qarun hidup di zaman Nabi Musa a.s sebagaimana cerita Allah dalam Al Qur’an :

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. (Q.S. Al Qashash : 76)

Qarun yang kaya raya ini berlaku sombong dan bangga diri akan segala harta yang dimilikinya. Saat ditanyakan bagaimana engkau bisa memiliki harta demikian banyak? Dia menjawab :

…”Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Al Qashash : 78)

Apa akibat dari kesombongan tersebut? Allah pun kemudian menjadikannya miskin karena seluruh hartanya hilang ditelan bumi. Firman Allah dalam Al Qur’an :

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap adzab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (Q.S. Al Qashash : 81)

Kisah yang lain yaitu Nabi Sulaiman selain sebagai Nabi beliau juga seorang Raja dengan kekuasaan yang luar biasa. Segala yang ada di bumi pada masa itu tunduk padanya. Bukan hanya manusia tapi juga binatang bahkan jin jadi balatentaranya. Demikian pula dengan angin dapat diperintah dan menjadi kendaraan baginya. Istananya demikian megah dan indah karena memang kekayaannya sungguh melimpah. Kemampuan ilmu dan teknologinya pun menakjubkan. Salah seorang ahlinya bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dari jarak yang sangat jauh hanya dalam sekejap. Ini teknologi teleportasi yang di era sekarang ini baru dalam alam teori.

Bagaimana Nabi Sulaiman menyikapi itu semua? Dalam Al Qur’an Allah mengisahkannya :

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (Q.S. An Naml : 40)

Bagaimana cara bersyukur? Ada beberapa jenis syukur. Syukur dengan lisan yaitu menyatakan dengan perkataan “Alhamdulillah”. Ungkapan lisan akan menguatkan keyakinan jika yang diucapkan betul-betul dipahami dengan baik. “Alhamdulillah : Segala puji hanya untuk Allah” makna sederhananya bahwa semua yang kita miliki dan nikmati berasal dari Allah . Bisa juga bermakna  saat kita memiliki kelebihan apakah harta, ilmu, jabatan dan sebagainya atau prestasi yang membanggakan sehingga manusia memberi pujian kepada kita maka kita berucap “Alhamdulillah” artinya sebenarnya yang patut dipuji hanyalah Allah, bukan kita sebagai manusia. Ini semua terjadi karena kehendak Allah. Bukan semata-mata karena usaha manusia. Manusia berusaha, Allah yang menentukan.  Jika diresapi dengan baik ungkapan tersebut maka rasa sombong akan jauh dari diri kita. Saat melihat orang lain mendapat nikmat lebih kita pun tidak akan iri dan dengki karena kita meyakini semuanya berasal dari Allah.

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”.  (Q.S. An Nahl : 53)

Syukur kedua yaitu dengan perbuatan. Inilah wujud aktualisasi rasa syukur berupa karya nyata sebagai pemanfaatan nikmat yang telah Allah anugrahkan. Nikmat waktu yang Allah berikan diisi dengan amal kebaikan. Nikmat ilmu dan keterampilan juga digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.  Ciri ilmu dan keterampilan yang kita miliki bermanfaat yaitu saat ada masalah di kantor atau di masyarakat kehadiran kita sangat dibutuhkan orang. Jika ada dan tidak adanya kita tidak jauh berbeda maka itu salah satu indicator bahwa kita belum maksimal dalam bersyukur.

Dari dua kisah di atas tentu kita ingin meneladani Nabi Sulaiman a.s. Kita tentu tidak ingin seperti Qarun. Oleh karena itu di ulang tahun Kalla Group yang ke – 61 yang Alhamdulillah terus tumbuh dan berkembang, mari kita sikapi sebagaimana Nabi Sulaiman memandang anugerah harta, tahta dan limu yang luar biasa. Nabi Sulaiman tetap sadar bahwa ini semua karunia dari Allah, bukan karena dia. Segala berasal dari Allah, milik Allah, dalam kendali Allah, untuk Allah, dan akhirnya kembali kepada Allah. Manusia hanya menerima titipan. Jika Allah berkehendak, titipan itu akan diambilnya dengan mudah. Karena itu semua titipan maka manusia kelak di hari akhir harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Itu semua bukti kerja ibadah yang menjadi nilai utama Kalla Group.

Akhirnya mari kita renungi, hafalkan  dan amalkan do’a syukur nikmat Nabi Sulaiman a.s di Q.S. An Naml  ayat 18 berikut :
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”.

Semoga kita bekerja di Kalla Group ini merupakan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk mengerjakan amal saleh yang Allah ridhai dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada pelanggan internal dan eksternal kita.

Dengan semangat kerja ibadah tercipta inovasi, memberi karya terbaik bagi masyarakat. Teruslah maju, berbagi bersama bangsa. (*)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − 1 =