Anies Baswedan Bicara Revolusi Mental di Wisma Kalla

0
414

MediaKALLA.com – Anies Baswedan menyempatkan diri hadir di Wisma Kalla, Jumat 17 Oktober 2014. Kehadiran Rektor Universitas Paramadina tersebut karena mendapat undangan dari Panitia HUT ke-62 Kalla Group. Ia hadir dengan kapasitas sebagai pembicara dalam seminar bertajuk ‘Revolusi Mental’

Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969 menuturkan bahwa awal tahun ini Indonesia mengalami benturan budaya yang hebat. Ini terjadi setelah Joko Widodo menggelorakan frasa ‘Revolusi Mental’. Revolusi yang pengertiannya cepat dan mental yang biasanya bertahap digabung menjadi satu frasa dan ini mengagetkan kita semua. ” Tapi di sisi lain, sesuatu yang mengagetkan membuat kita berminat melihat dan mengetahuinya lebih jauh. Di sini kemudian Revolusi Mental ini menarik perhatian banyak pihak, ” katanya.

Ketika berbicara Revolusi Mental, kata Anies, orang-orang yang sering berinteraksi dengan Pak Jusuf Kalla pasti mengalaminya, karena cara berpikir beliau agak berbeda. Beliau bisa berpikir di luar kotak dan nalar. ” Orang yang bisa berpikir di luar kotak, biasanya muncul dengan terobosan-terobosan yang tak terfikirkan, ” pujinya.

Inisiator Gerakan Indonesia Mengajar tersebut menjelaskan bahwa terminologi revolusi mental adalah terminologi yang terbebaskan. Siapapun yang belajar mengkaji lebih jauh, maka keberanian itu muncul. Harapan itu muncul ketika pasangan Jokowi-JK maju sebagai calon presiden, keduanya berlatar belakang wirausaha dan sama-sama berorientasi pada hasil bukan proses. ” Terpenting adalah konsentrasi pada hasil dengan proses yang benar, ” tekannya

Mengapa revolusi mental penting untuk Indonesia? Indonesia punya banyak masalah. Revolusi mental diterjemahkan sebagai perubahan mindset secara total. Dalam begitu banyak urusan mari menanyakan hal-hal yang tidak ditanyakan untuk apa?? untuk kita melakukan sesuatu perbaikan.

Suami dari Fery Farhati Ganis itu menganalogikan bahwa saat ini tata aturan, tata kelola, tata laksana sudah ada semuanya, tetapi manusia yang menjalankan tiga tata itu tidak berhasil mengubah tata tersebut menjadi realita, karena sikap dan perilaku manusia belum mencerminkan itu. ” Perubahan itu haruslah didasarkan pada pemikiran yang besar, dimulai dengan hal-hal yang kecil dan dijalankan saat ini, ” tegasnya. [Azhar]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five − two =