AL QUR’AN Untuk Perubahan

0
609

MEdiaKALLA.com – Hari ini tanggal 17 Ramadhan diperingati sebagai hari turunnya Al Qur’an. Patut untuk direnungi mengapa ini diperingati dan apa yang bisa menjadi pengingat atau pelajaran bagi kita. Mari kita flash back pada keadaan saat turunnya Al Qur’an tahun 611 M. Saat itu kondisi masyarakatnya berada dalam kesesatan yang nyata. Allah SWT menggambarkannya dalam Al Qur’an :

Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Q.S. Al Jumu’ah : 2)

Kondisi ini digambarkan oleh Umar bin Khattab yang terkadang menangis dan tertawa jika mengingat masa jahiliahnya. Dia menangis mengingat kejadian saat mengubur putrinya hidup hidup karena anak perempuan dianggap sebagai aib. Dia tertawa saat mengingat kejadian membuat patung sesembahan dari roti atau kurma. Patung yang demikian diagungkan ternyata saat lapar dan tidak ada makanan harus dipotong untuk dimakan. Jadi mereka memakan tuhannya. Kehidupan social masyarakat pun sangat parah. Penguasa menindas rakyat. Perang antar kabilah sering terjadi. Sistem ekonomi yang tidak adil. Rentenir merajalela dengan bunga yang sangat tinggi. Wanita pun demikian rendah martabatnya, bisa diperdagangkan dan diwariskan.

Semua kondisi tersebut meresahkan dan menggelisahkan Muhammad. Maka dia pun pergi menyendiri ke gua Hira, di Jabal Rahmah luar kota Mekkah. Apa yang dilakukannya di sana? Beliau merenungi kondisi masyarakatnya, apa solusinya, apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki kondisi tersebut. Semua direnunginya dan di keheningan malam tanggal 17 Ramadhan datanglah seseorang yang memeluknya dan menyuruhnya MEMBACA, IQRA’. Dalam keadaan terengah-engah sesak nafas Muhammad menjawab, “saya tidak bisa membaca”. Namun tetap saja disuruh membaca sampai akhirnya “iqra bismi rabbikalladzi khalaq” yang artinya “bacalah dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan”.

Sungguh menarik kejadian ini. Masalah yang direnungi kelihatannya jawabannya tidak nyambung. Masalah akhlak, social, ekonomi, politik sampai masalah akidah tapi jawaban pertamanya hanya satu kata “BACALAH”.  Mengapa Allah tidak menurunkan Surat Al Ikhlas yang “Katakanlah bahwa Allah itu Esa” karena masyarakatnya syirik menyembah banyak Tuhan. Atau surat Al Muthatahaffifin “celakalah bagi orang yang curang” karena ekonomi penuh kecurangan.

Ternyata membaca ini memang sangat penting. Melalui membaca maka manusia menjadi tahu dan paham sesuatu. Setelah tahu dan paham harapannya dapat menyadari hal-hal yang salah dan perlu diperbaiki dari diri dan kehidupannya. Setelah muncul kesadaran akan mudah untuk berbuat dan melakukan perubahan / perbaikan (amal shaleh) bagi diri sendiri dan orang lain. Jika sudah terbangun perbuatan baik dan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan maka menjadi karakter dan jadilah manusia yang saleh.

Membaca yang mendalam melalui penghayatan dan perenungan sampai pada taraf kesadaran artinya terjadi perubahan mind set atau paradigma. Perubahan besar selalu diawali dari perubahan paradigma dan mind set. Rasulullah diutus untuk melakukan perubahan besar pada masyarakat bahkan dunia dengan tiga tugas yaitu :

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As sunnah). … (Q.S. Al Jumu’ah : 2)

Berawal dari IQRA’ dan terus perlahan-lahan ayat Al Qur’an turun selama 22 tahun akhirnya dampaknya sungguh luar biasa. Masyarakat jahiliyah berubah menjadi masyarakat marhamah, penuh kasih dan sayang. Jika Indonesia tercinta yang kondisinya masih belum sesuai harapan ingin berubah menjadi masyarakat yang marhamah maka contohlah strategi transformasi Rasulullah dengan membaca, mengkaji dan mengamalkan Al Qur’an. Itu semua bisa dimulai dari diri kita masing-masing dengan membaca, mentadaburi (menghayati/memperhatikan) Al Qur’an dan mencoba mengamalkannya sesuai kemampuan. Jadi jangan hanya sekadar membaca (tilawah) saja tapi cobalah untuk membaca terjemahannya dan cermati, perhatikan hal-hal yang menarik dan pesan di dalamnya. Lebih baik lagi jika dicoba untuk dituliskan karena salah satu cara Allah mengajarkan manusia yaitu lewat menulis. Melalui aktivitas menulis Allah akan memberikan inspirasi dan hidayah-Nya sebagaimana firman-Nya :

Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (pena). (Q.S. Al Alaq : 4)

Saya mencoba di bulan Ramadhan ini untuk menulis hasil renungan dan tadabur Al Qur’an dan Alhamdulillah saya merasakan adanya inspirasi dan hidayah tersebut. Semoga dengan inspirasi dan hidayah tersebut bisa memandu jadi amal shaleh. Semoga dengan itu kita tidak termasuk orang-orang yang hatinya terkunci. Allah berfirman :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad : 24)

Akhirnya Al Qur’an diturunkan tujuannya untuk memandu perubahan di masyarakat. Berawal dari perubahan individu. Apa yang diubah pertama kali dari individu? Ternyata mind set, paradigma atau iman dan keyakinan. Dengan bekal iman yang benar dan kuat maka akan memandu amal saleh dan menjadikan manusia saleh. Sekumpulan manusia saleh akan membentuk masyarakat saleh dan akhirnya jadi Negara yang saleh.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – 13 Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.