Agar Shalat Tidak Sia Sia

0
558

Imam Bukhari melalui Abu Hurairah meriwayatkan suatu hari Rasulullah setelah shalat berjamaah beliau beristirahat di dalam masjid. Kemudian masuklah seseorang. Setelah shalat orang tersebut mendekati rasulullah dan memberi salam. Rasulullah pun menjawab salamnya lalu rasulullah bersabda “shalatlah kembali”. Maka orang itu pun kembali shalat. Setelah itu dia ke Rasulullah lagi. Ternyata Rasulullah memintanya shalat kembali.  Maka dia pun shalat lagi untuk kedua kalinya. Setelah itu dia ke Rasulullah lagi dan ternyata masih disuruh shalat kembali oleh Rasulullah. Maka dia pun bertanya “ya Rasulullah ajarkanlah aku cara shalat”. Maka rasulullah pun mengajarinya dengan berkata “sempurnakanlah wudhu, bertakbirlah, bacalah Al Fatihah dan surat Al Qur’an yang mudah dan kamu pahami. Kemudian ruku’lah sampai engkau merasa tenang dalam ruku’mu. Kemudian berdirilah kembali sampai berdirimu sempurna. Lalu sujudlah sampai engkau merasa tenang dalam sujudmu. Lalu duduklah sampai engkau merasa tenang dalam dudukmu. Lalu sujudlah kembali sampai engkau merasa tenang dalam sujudmu. …. “

Apa masalahnya sehingga orang tersebut disuruh mengulangi shalatnya oleh Rasulullah? Ternyata dia melakukan shalat dengan terburu-buru, tergesa-gesa, gerakannya cepat sehingga tidak terlihat ketenangan jiwa dalam shalatnya. Mari mengevaluasi shalat kita selama ini. Apakah termasuk kategori shalat tergesa-gesa atau tidak? Jika shalat kita begitu cepat sehingga gerakannya tak sempurna karena terburu-buru maka bisa jadi kita masuk kategori orang yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengulangi kembali shalat. Artinya shalat kita tidak memenuhi syarat untuk diterima. Jika tidak diulangi maka menjadi sia-sia. Bisa jadi hanya menggugurkan kewajiban tapi tidak memberi dampak dunia dan akhirat. Dampak dunia berupa ketenangan jiwa tidak akan kita raih serta dampak akhirat berupa pahala juga tidak ada. Sungguh rugilah kita. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam Al Qur’an :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya“ (Q.S. Al Maa’uun : 4-5)

Bagaimana agar terhindar dari golongan orang yang lalai dalam shalat? Rasulullah mengajarkan agar melakukan gerakan shalat sampai merasakan ketenangan saat berdiri, ruku, duduk dan sujud. Untuk meraih ketenangan maka syarat utamanya adalah shalat bukan hanya jasmani tapi juga ruhani. Gerakan fisik shalat itu jasmani, sedangkan memahami dan memaknai bacaan shalat di setiap gerakannya merupakan shalat secara ruhani. Saat mengucapkan Allahu Akbar maka sadarlah bahwa kita sedang berhadapan dengan Allah yang Maha Besar. Segala atribut duniawi berupa harta, pangkat, gelar tak ada artinya dibandingkan dengan Allah yang Maha Besar.

Demikian pula dengan bacaan shalat lainnya seperti surat Al Fatihah, bacaan ruku, I’tidal, ruku, duduk dan tasyahud awal dan akhir jika dapat dimengerti dan dimaknai dengan baik maka Insya Allah shalat yang tenang dan khusyu akan dapat diraih karena senantiasa berada dalam keadaan zikir, ingat kepada Allah. Allah berfirman :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Q.S. Al A’raaf : 28)

Semoga kita yang tiap hari penuh kesibukan di tempat kerja tetap dapat menjadikan shalat sebagai saat untuk mengingat Allah. Memang berat karena biasanya memori kita masih di pekerjaan saat waktu shalat tiba. Namun itulah tantangannya. Mari terus berusaha dan semoga perlahan tapi pasti kita bisa meraihnya sebagaimana firman Allah :

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (Q.S. Thaaha : 14)

Syamril

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven − 5 =