ADA SURGA DI RAMADHAN

0
398

MediaKALLA.co.id – Pada saat awal penciptaan Nabi Adam sebelum ditugaskan sebagai khalifah di bumi, beliau ‘transit’ terlebih dahulu di surga. Apa maksud dari transit tersebut? Quraish Shihab mengatakan bahwa itu sebagai ‘studi banding’ untuk selanjutnya Nabi Adam mengemban tugas ‘membangun’ kehidupan surga di bumi. Untuk mengemban tugas sebagai khalifah Nabi Adam ditemani oleh istrinya Siti Hawa. Maknanya bahwa mengemban tugas harus bersama-sama dan yang dibangun adalah kehidupan bermasyarakat, bukan semata kehidupan pribadi.  Jadi visinya adalah membangun kehidupan masyarakat yang surgawi.

Apa ciri-ciri masyarakat yang surgawi? Indikatornya dapat ditemukan pada kehidupan masyarakat di bulan Ramadhan. Ada 4 ciri yang dapat diambil dari 4 huruf pada kata ramadhan yaitu huruf ra, mim, dhad, dan nun. Ciri pertama dari huruf “ra” dan terbentuklah kata “rahmat” atau kasih sayang. Ciri pertama dari masyarakat surgawi yaitu adanya cinta dan kasih sayang. Wujudnya dalam kehidupan keluarga yaitu bapak ibu yang saling mencintai, orang tua sayang pada anaknya, anak hormat pada orang tuanya. Kehidupan bertetangga berupa saling membantu, menghormati dan menghargai. Dalam kehidupan masyarakat pemimpin mengayomi rakyatnya dan rakyat mendukung pemimpinnya dan sesama rakyat saling akur dan gotong royong.

Dalam kearifan lokal Bugis terdapat kata “sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling memuliakan), sipakainge’ (saling mengingatkan), sipatuo (saling menghidupkan), sipatokkong (saling mengokohkan)”. Artinya sebagai manusia (sipakatau) hendaknya kita saling memuliakan (sipakalebbi) bukan saling mengejek atau menjatuhkan. Jika salah seorang di antara kita melakukan kekhilafan maka mari saling mengingatkan (sipakainge’). Jika ada di antara saudara kita yang butuh pertolongan maka mari saling membantu dengan semangat sipatuo – sipatokkong. Itu semua sesuai dengan ciri masyarakat yang penuh kasih sayang (rahmat).

Rahmat atau kasih sayang ini bersumber dari Allah SWT. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Allah memiliki 100 rahmat dan hanya 1 yang diturunkan ke bumi. Dengan satu rahmat itulah induk ayam akan melindungi anaknya dari ancaman yang membahayakan. Dengan rahmat itulah seekor induk keledai tidak akan menginjak anaknya saat berjalan di antara anaknya yang masih bayi. Apa syaratnya agar manusia mendapatkan rahmat dari Allah? Dalam  konteks bermasyarakat Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al Hujurat : 10)

Dari ayat tersebut ada 3 syarat agar rahmat Allah dapat kita raih yaitu persaudaraan, perdamaian dan ketakwaaan. Persaudaraan harus selalu dijaga dengan perdamaian. Jika ada perselisihan yang dapat merusak persaudaraan maka harus ada usaha untuk mewujudkan perdamaian. Jika itu semua dilandasi oleh semangat takwa maka insya Allah rahmat-Nya akan dapat diraih.

Selanjutnya ciri kedua dari masyarakat surgawi dari kata ramadhan yaitu huruf “mim” yang membentuk kata “maghfirah” atau “ampunan”. Ampunan itu terkait pada hubungan dengan Allah (hablum minallah). Jika dalam hubungan antar sesama manusia maka ia berupa saling memaafkan. Tidak ada manusia yang suci yang tidak punya salah. Jadi manusia yang hebat bukanlah yang tidak punya dosa dan kesalahan. Tapi manusia yang hebat adalah manusia yang jika melakukan dosa dan kesalahan segera bertobat dan memohon maaf. Tentu lebih hebat lagi adalah mereka yang mau mema’afkan orang lain.  Meminta maaf relatif lebih mudah dibandingkan dengan memaafkan.

Orang yang mema’afkan orang lain akan mudah mendapatkan kebahagiaan. Mengapa memaafkan bisa membahagiakan? Karena saat mema’afkan kita sedang melepaskan rasa benci dan dendam. Jika benci dan dendam disimpan, ia akan membuat hidup kita tidak tenteram. Jika ia dilepaskan dengan mema’afkan orang lain maka beban berat dalam jiwa kita akan lepas. Maka wajar saja mema’afkan menjadi salah satu ciri orang bertakwa yang akan meraih ampunan dari Allah dan surga-Nya. Allah  berfirman :

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. Ali Imran : 133-134)

Ciri ketiga dari masyarakat surgawi diambil dari kata “dhad” yang membentuk kata “dhuyuf” yang artinya tamu. Pada bulan ramadhan masjid ramai dikunjungi para tamu Allah untuk shalat berjama’ah. Selain mengunjungi rumah Allah, pada bulan Ramadhan apalagi saat Idul Fitri manusia banyak saling bertamu dan mengunjungi untuk memperat silaturahim dan ukhuwah. Dari pertemuan berkembang menjadi komunikasi dan dialog untuk saling memahami. Masyarakat surgawi yaitu masyarakat yang saling memahami jika ada perbedaan dan permasalahan. Permasalahan dihadapi dengan pikiran yang jernih, komunikasi yang positif untuk mencari solusi. Bukan dengan saling menyalahkan, pertengkaran, permusuhan dan perkelahian.

Ciri keempat diambil dari kata “nun” yang membentuk kata “nur” yang artinya cahaya. Maksudnya cahaya hidayah yang menyinari hati. Pada bulan Ramadhan hampir setiap hari kita belajar dengan mendengarkan ceramah agama. Diharapkan itu semua tidak hanya menjadi hidayah intelektual tapi juga menjadi hidayah spiritual yang mencerahkan qalbu dan jiwa. Jadi berawal dari ilmu yang bersemi di dalam sanubari yang akhirnya menjadikan hati kita bercahaya (hati nurani). Dapat membedakan baik – buruk, benar – salah. Jadi masyarakat surgawi yaitu masyarakat yang pembelajar (learning society), saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.

Itulah empat ciri masyarakat surgawi yaitu rahmat (kasih sayang), maghfirah (ampunan – mema’afkan), dhuyuf (mengunjungi – komunikasi) dan nur (cahaya – belajar – hidayah). Mari kita kembangkan di kehidupan pribadi, keluarga, tempat kerja, masyarakat, berbangsa, bernegara dan pergaulan antar bangsa. Semoga ciri-ciri tersebut tidak hanya tampak pada bulan Ramadhan tapi terus tumbuh dan berkembang selepas Ramadhan sehingga  dapat terwujud masyarakat yang marhamah, sejahtera lahir dan batin, bahagia dunia dan akhirat. Amin.

Makassar, 9 Ramadhan 1437
Syamril

Follow Us
==============
Facebook; Media KALLA
Twitter; @MediaKALLA
Youtube; Media Kalla Group

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × five =