70 Tahun Jusuf Kalla (Bagian IV) : Menjadi Anak, Suami, Ayah dan Kakek yang Baik

0
708
Jusuf Kalla, mewarisi dan mewariskan dengan baik

Menjadi Anak yang Baik

Sesungguhnya, Jusuf Kalla diproyeksikan ayahnya Hadji Kalla untuk menjadi ulama. Maklum, Hadji Kalla memang bercita-cita untuk memiliki anak tamatan Universitas Al Azhar Mesir. Untuk itu, JK kemudian disekolahkan di Perguruan Islam Datumuseng Makassar. Namun, Tuhan menakdirkan lain, JK mengikuti hasratnya untuk menjadi pengusaha. JK kemudian menempuh jalur umum dengan bersekolah di SMA Negeri 3 Makassar kemudian melanjutkannya di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar.

Setelah menjadi Sarjana Ekonomi bergelar Dokturandus, JK mewarisi bisnis dan perusahaan ayahnya. Motivasi ayahnya sederhana saja kala itu, dia berkata kepada JK: “Saya ini tidak tamat SD bisa sukses berbisnis, masa kamu Dokturandus tidak bisa.” Motivasi itu memacu JK. Dan hasilnya luar biasa: kalau kita ibaratkan kebesaran bisnis keluarga Kalla saat ini dengan persentase 100%, JK dulu hanya mewarisi 20% dari ayahnya, JK kemudian bekerja keras menumbuhkannya menjadi 100%.

Itu berarti, JK telah menjadi anak yang mewarisi bisnis dan perusahaan orangtuanya dengan baik. JK juga tidak serakah, karena dia kemudian berbagi dengan membantu kehidupan adik-adiknya, dari sekolah sampai bekerja, dan menopang kehidupan keluarga besarnya, serta teman-temannya.

Mufidah dan JK saat acara aqiqah anak perempuan Solichin Jusuf, Khalila Azeeza

Menjadi Suami yang Baik

JK melihat Mufidah pertama kali sejak SMA. Saat itu, JK duduk di kelas II dan Mufidah masuk sebagai siswa baru. Sejak saat itu, cinta bersemi di hati JK dan Mufidah. Saat kuliah, JK terus melakukan pendekatan dengan sering berkunjung ke rumah Mufidah. Bahkan, saat Mufidah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia Makassar sambil bekerja sebagai teller di BNI 1946, JK mendaftar sebagai asisten dosen di UMI dan menabung di BNI46. Tujuannya jelas: agar dekat dengan Mufidah.

Pendekatan JK semakin serius saat mendengar kabar bahwa Mufidah akan dijodohkan dengan seorang yang tampan dan sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. JK mengonfirmasi kabar itu langsung kepada mufidah dan Mufidah membenarkannya. Namun JK tidak putus asa. Akhirnya, JK memberanikan diri melamar langsung Mufidah dan diterima oleh orangtua Mufidah, Mi’ad Sa’ad. Keduanya pun melakukan pertunangan pada 1966 dan pernikahan setahun kemudian.

Kini, umur pernikahan JK (70 tahun) dan Mufidah (69 tahun) telah genap 45 tahun. Keduanya sangat bahagia dan sepertinya hanya maut yang dapat memisahkan mereka. JK telah menjadi suami yang baik bagi Mufidah; ‘tak pernah sekali pun dia berbagi dengan wanita lain meskipun bergelimang tahta dan harta. Begitu pula Mufidah, juga telah menjadi istri yang baik bagi JK, dalam suka maupun duka.

JK dan Mufidah didampingi tiga anak perempuannya: Imelda, Chairani dan Muswira

Menjadi Ayah yang Baik

Bersama Mufidah, JK dikaruniai lima orang anak: Muchlisa Jusuf, Muswira Jusuf, Imelda Jusuf, Solichin Jusuf dan Chairani Jusuf. Sebagai ayah, JK telah memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya: kehidupan yang layak, pendidikan, perhatian, dan kasih sayang. Hasilnya : anak-anak JK tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan bahagia. ‘Tak satu pun dari anak-anak JK yang memiliki masalah, baik kepada JK, orang lain, publik atau pun hukum negara. Empat diantaranya sudah berkeluarga dan bahagia bersama keluarganya masing-masing.

Semua anak-anak JK turut mengambil peran dalam bisnis keluarga, termasuk menantu-menantunya. Dan JK telah mengatur dengan baik peran dari anak dan menantunya itu. Hal ini membuktikan bahwa JK bukan hanya telah mewarisi dengan baik, tapi juga telah mewariskan dengan sama baiknya pula.

Menjadi Kakek yang Baik

JK berenang bersama cucunya

Dari anak-anaknya, JK sementara dikaruniai sepuluh cucu: Ahmad Fikri, Masyitah, Jumilah Saffanah, Emir Thaqib, Rania Hamidah, Aisha Kamilah, Siti Shafiyah, Rasheed, Maliq Jibran dan Khalila Azeeza. Sesibuk apapun, JK selalu memberikan perhatian kepada cucu-cucunya itu. Misalnya, JK dengan senang hati berenang bersama cucu-cucunya di waktu senggang. Maklum saja, cucu-cucu JK itulah yang nanti akan menjadi generasi keempat pewaris perusahaan keluarga. [mk]

Penulis: Fachrul Khairuddin – PT. Haka Sarana Investama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 − one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.