“Halo, Siapa Namamu?”

0
2900

Sore yang mendung diantara penciptaan rangkaian kata yang terhampar dari tarian jari jemari manusia, aku terantuk di persimpangan jalan yang hampa dan hambar. Bukanlah sepi bukan pula kosong makna dari pemaparan mereka tentang dunia, namun jiwa yang rapuh ini berada dalam posisi sepi dari kebenaran yang hakiki, meski rangkaian kata mereka menari di depanku. Ribuan kisah dan cerita yang mereka alunkan dengan nada-nada sendu, emosi, dan menyentuh, menuntunku ke sebuah kalimat “ah…! aku dan kamu tersesat.” Lalu ada apa sebenarnya?. Aku berkeliling ke dunia sastra namun yang aku temukan hanyalah jiwa-jiwa yang tersesat dan kebingungan akan jati dirinya.

Tak lama kemudian sebuah kalimat menghampiri dan menyapaku  “halo, siapa namamu?.” Aku menjawab seadanya dengan apa adanya aku sebutkan namaku yang telah diberikan oleh kedua orang tuaku sedari kecil, namun dengan senyumnya yang misterius itu aku sadar bahwa nama yang aku sebutkan belum sesuai dengan realita sebenarnya. “Jadi siapakah aku? Namaku siapa?” tetap pada kebingunganku yang mencerminkan jiwa yang tersesat.

Rasa penasaran yang semakin memuncak untuk mencari dan mencari jawaban dari pertanyaan tersebut, aku terhenti di sebuah rangkaian kata-kata dari kitab suci yang bernama Al-Quran. “Saudaraku… bukankah sedari kecil aku telah hadir dan memberimu ilmu yang akan menuntunmu dari ketidaktahuan akan dunia?. Namamu adalah namaku, begitu pula dengan lautan, daratan, tumbuhan, hewan, bumi, planet, galaksi dan lain-lainnya adalah satu nama dengan namamu dan namaku. Aku adalah kamu begitupula sebaliknya. Nama itu adalah sebuah kata yang bersumber dari Pencipta kehidupan yang telah diberitahukan ke Nabi Adam sebelum ia turun ke bumi bersama kekasihnya.” Serbuan pernyataan dari si kalimat itu memenjarakan bathin dan logikaku. Setelah terdiam sejenak aku mengajukan pertanyaan ke kalimat tersebut. “Jadi bagaimana aku bisa mengetahui namaku?”.

Dia pun menjawab “kembalilah ke rangkaian kata Kitab Suci Al-Quran, pelajarilah, pahamilah, dan amalkanlah, karena sejuta rangkaian kata yang dibuat oleh manusia hanyalah bias dari kebenaran yang hakiki, dan kemuliaan namamu berada dalam proses dari jalan kehidupan yang kamu pilih. Bersemangatlah dalam menjemput jawaban dan jangan pernah berhenti dalam perjuanganmu menemukan dirimu serta mengenali dirimu.” [mk]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 2 =